Abstrak:
Il n’y a pas seulement intertexte comparaison qui on peut compare mais aussi socioculturel comparaison. Les littératures n’est pas seulement influence par l’autre littérature mais aussi l’influence socioculturel dans sa région. Spécialement en les littératures qui ont un grand thème universel comme L’amour, L’héro, Divinité, tragédie etc. on peut trouver ce littérature avec ce grand thème autour le monde. Bien sur il n’y a pas deux littératures qui exactement même. Toujours il y a influence de socioculturel de sa région qui influencée la littérature.
Sastra bandingan adalah sebuah studi teks across cultural. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek waktu dan tempat. Dari aspek waktu, sastra bandingan dapat membandingankan dua atau lebih periode yang berbeda. Sedangkan konteks tempat, akan mengikat satra bandingan menurut wilayah geografis sastra. Konsep ini merepresentasikan bahwa sastra bandingan memang cukup luas, bahkan pada perke mbangan selanjutnya konteks sastra bandingan tertuju pada bandingan sastra dengan bidang lain. Bandingan ini, guna merunut keterkaitan antar aspek kehidupan. Sastra bandingan juga dapat meliputi aspek: pengaruh, sumber ilham (acuan), proses pengambilan ilham atau pengaruh dan tema dasar.
Dalam kamus Websters, dikemukakan bahwa sastra bandingan mempelajari hubungan timbal balik karya sastra dari dua atau lebih kebudayaan nasional yang biasanya berlainan bahasa, dan terutama pengaruh karya sastra yang satu terhadap karya sastra lain. Sementara itu, menurut Rene Wellek dan Austin Warren ada tiga pengertian mengenai sastra bandingan. Pertama, penelitian sastra lisan, terutama tema cerita rakyat dan penyebarannya. Kedua, penyelidikan mengenai hubungan antara
dua atau lebih karya sastra, yang menjadi bahan dan objek penyelidikannya, di antaranya, soal reputasi dan penetrasi, pengaruh dan kemasyhuran karya besar. Ketiga, penelitian sastra dalam
keseluruhan sastra dunia, sastra umum dan sastra universal. Sejalan dengan pendapat Wellek dan Warren, Holman mengungkapkan, bahwa sastra bandingan adalah studi sastra yang memiliki perbedaan bahasa dan asal negara dengan suatu tujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan dan pengaruhnya antara karya yang satu terhadap karya yang lain, serta ciri-ciri yang dimilikinya.
Hal senada juga dikemukakan Remak yang mengungkapkannya sebagai berikut: “Sastra bandingan adalah studi sastra yang melewati batas-batas suatu negara serta hubungan antara sastra dan bidang pengetahuan dan kepercayaan lain.” Ringkasnya, sastra bandingan adalah perbandingan karya sastra yang satu dengan satu atau beberapa karya sastra lain, serta perbandingan karya sastra dengan ekspresi manusia dalam bidang lain. Lebih lanjut Remak menekankan, bahwa perbandingan
antara karya sastra dan bidang di luar sastra hanya dapat diterima sebagai sastra bandingan, jika perbandingan keduanya dilakukan secara sistematis dan bidang di luar sastra itu dapat dipisahkan dan mempunyai pertalian logis.
Namun dalam kenyataannya seringkali ditemukan bahwa hal-hal yang mempengaruhi karya sastra yang memiliki kemiripan bukan hanya sekedar hubungan pengaruh karya sastra satu dan yang lain, namun juga adanya pengaruh secara sosio-historis maupun pengaruh kultural. Terutama pada karya sastra yang bertema universal, seperti cinta, diferensiasi sosial, ketuhanan, kepahlawanan, dan sebagainya.
Perbandingan dalam mitologi nordik (skandinavia) dan mitologi hindu (india) dapat menjadi contoh komparasi dalam tema ketuhanan. Kedua mitologi ini mengenal adanya pohon kehidupan, pohon bagha (dalam mitologi hindu) dan pohon yggdrasill (dalam mitologi nordik). Keduanya juga mengenal pimpinan para dewa, Dyaus (dalam mitologi hindu) dan Odin (dalam mitologi nordik). Selain itu kedua mitologi ini juga mengenal adanya konsep tiga dunia (tri-bhuwana dalam mitologi hindu) yang kemudian diadaptasi oleh mitologi – mitologi yang lebih muda dari kedua mitologi (seperti mitologi mesir kuno atau mitologi yunani) tersebut. Tidak ada catatan historis yang menyebutkan kedua mitologi tersebut saling mempengaruhi. Selain dikarenakan kedua daerah tempat berkembangnya mitologi tersebut berjauhan. Kedua mitologi tersebut juga hanya menyebutkan bahwa dunia manusia hanya terdiri dari satu benua.
Sedangkan perbedaan paling banyak dapat ditemukan dalam karya sastra bertemakan cinta, khususnya pada tema ‘kasih tak sampai’. Contoh paling mudah dapat kita temukan pada karya Romeo dan Juliet (Inggris), Sampek Engtai (China), Lancelot dan Guinevere (anglo saxon), Popocatépetl dan Iztaccíhuatl (Mexico), Layla Majnun (Arab) dan dalam kisah klasik lainnya seperti Paris dan Helen dalam Illiad (yunani), Oedipus dan Jocasta (Yunani). Kisah serupa tak hanya dapat dijumpai dalam karya sstra namun juga berkembang ke dalam serial televisi, film bahkan RPG (role playing games) seperti Buffy dan Angel (Buffy the vampire slayer), Clark Kent dan Lana Lang (Smallville) dalam film pun dapat kita temukan kisah Jack Dawson dan Rose DeWitt Bukater from Titanic, Landon Carter dan Jamie Sullivan dalam "A Walk to Remember", Anakin Skywalker dan Padmé Amidala dalam Star Wars, Christian dan Satine dalam Moulin Rouge! Bahkan Ennis Del Mar dan Jack Twist dalam Brokeback Mountain juga dapat kita masukkan. Dari dalam negeri ada kisah Saijah dan Adinda dalam Max Havellar ataupun dalam legenda terjadinya Tangkuban Perahu.
Persamaan yang mendasari kisah dalam karya-karya sastra tersebut bukan berarti cerita dan plot yang dipakai sama. Dalam Oedipus dan Sangkuriang, kedua tokoh ini ingin menikahi ibunya, karena keduanya tidak tahu bahwa wanita cantik yang ia temui adalah ibunya. Keduanya juga memiliki persamaan yaitu cacat secara fisik, Oedipus pincang dan Sangkuriang memiliki bekas luka di kepalanya. Namun perbedaan mencolok dari kedua karya tersebut adalah Oedipus sempat menikahi Jocasta, ibunya sedangkan Sangkuriang tidak. mengapa Oedipus sempat menjadi suami perempuan yang sebenarnya ibunya sendiri, sedangkan Sangkuriang, menikah pun dengan Dayang Sumbi belum sempat? Tentu saja persoalannya akan menjadi jelas jika kita menghubungkan kultur Sunda pada diri Sangkuriang dengan kultur Barat pada diri Oedipus. Sangat boleh jadi, Oedipus tidak mengenal.Konsep “anak durhaka” dan “surga berada di bawah telapak kaki ibu.”
Masalah yang sama dapat kita kemukakan pada kasus Pariyem dan Nyanyian Lawino. Mengapa Lawino tampil sebagai sosok perempuan kasar, pemberang dan berangasan dibandingkan Pariyem yang sumarah, minder, manut. Mengapa pula dalam cerita-cerita fabel di Eropa, tokoh Serigala selalu tampil sebagai tokoh yang cerdik dan sering muncul sebagai “mesias”, dewa penolong, sedangkan dalam cerita fabel Nusantara, tokoh seperti itu diwakili oleh tokoh kancil, sebaliknya tokoh Serigala tampil sebagai tokoh jahat, rakus, dan serakah? Tentu saja ini berkaitan dengan latar belakang sosiokultural yang berlaku di masyarakat masing-masing.
Banyak contoh serupa masih dapat kita perpanjang. Namun, yang jelas bahwa penjelasan sosiokultural dalam studi sastra bandingan agaknya, perlu mendapat tekanan, betapapun itu memerlukan disiplin ilmu lain. Dengan cara ini, niscaya studi sastra bandingan akan memberi sumbangan berarti bagi usaha memahami kebudayaan suatu bangsa. Dengan cara itu pula, terbuktilah bahwa bahasa (: sastra) merupakan juga cerminan identitas bangsa.