Olympus Move To The States!!

Salah satu hal yang paling banyak diingat tentang negara Yunani adalah mitologinya. Dunia perfilman pun sudah berkali-kali mengangkat mitologi tersebut ke layar lebar. Salah satunya dalam kisah Percy Jackson and The Lightning Thief. Dengan mengkombinasikan mitologi Yunani dengan setting modern, film yang diangkat dari novel Rick Riordan ini menceritakan tentang kisah seorang anak demigod bernama Percy Jackson (Logan Lerman) yang entah kenapa dituduh mencuri petir milik Zeus (Sean Bean). Bersama dua orang temannya, Grover (Brandon T. Jackson) dan Putri Athena, Annabeth (Alexandra Daddario), ia berusaha membuktikan dirinya tidak bersalah.

Walaupun premis cerita ini cukup menarik, banyak kejanggalan yang cukup mengganjal ketika direalisasikan dalam bentuk film. Jujur saja ada dua pertanyaan yang masih menggantung di benak saya saat melihat film ini yang tak terjawab dengan tuntas sampai akhir film. Yang pertama mengapa Zeus menuduh Percy Jackson mencuri petirnya, dan bagaimana cara si pencuri mencuri petir Zeus. Sementara dewa-dewa yang muncul disini, terutama tiga bersaudara Zeus, Poisedon (Kevin McKidd) dan Hades (Steve Coogan) digambarkan sangat powerful. Well, kesan yang tertinggal di benak saya ketika film ini berakhir mungkin hanya soundtrack Highway to Hell-nya AC/DC yang diputar saat Percy dan kawan-kawannya memulai perjalanan menuju Tartarus, underworld dalam mitologi Yunani (yang ternyata terletak di belakang tulisan Hollywood) dan penampilan Hades yang sangat rock n roll (kata Grover “Look like Mick Jagger things”).

Penampilan Logan Lerman pun nampak kurang impresif sebagai anak seorang dewa, lebih-lebih dia memerankan tokoh sentral cerita. Alexandra Daddario juga terkesan kurang garang untuk memerankan tokoh gadis petarung. Penampilan Pierce Brosnan sebagai Mr. Brunner / Chiron dan Uma Thurman sebagai Medusa pun nampaknya tidak terlalu signifikan.

Chris Colombus, sang sutradara nampaknya masih menggunakan formula yang sama dengan dua film Harry Potter yang pernah dibesutnya. Banyak elemen yang membuat film ini sekilas terkesan mirip dengan Harry Potter. Seperti adanya tiga tokoh utama, dua lelaki dan seorang perempuan, yang mengingatkan kita pada Harry, Hermione dan Ron. Benda-benda sakti para dewa yang dimodernkan, seperti kasut terbang Hermes yang dalam film ini menjadi sepatu kets bersayap, yang sekilas mirip golden snitch.

Sebagai hiburan, film ini cukup layak disaksikan. Secara visualpun, walaupun cukup standar untuk film semodel ini, cukup mengesankan. Sayangnya, akhir cerita dari film ini tidak memberi kita clue akan kemunculan sekuelnya. Sehingga masih muncul muncul pertanyaan apakah film ini akan berlanjut, seperti novelnya yang sudah sampai seri kelima? Well, let’s see. Semoga saja sekuelnya lebih impresif dari film pertama yang kesannya sangat biasa.

One Day Somebody’s Got To Say Enough!

One day somebody’s got to make a stand. One day somebody’s got to say enough!

Film ini menceritakan tentang kisah Perseus, salah satu pahlawan dalam mitologi Yunani. Anak Zeus (Liam Neeson), Perseus (Sam Worthington) melakukan perjalanan menuju underworld untuk menghentikan rencana Hades (Ralph Fiennes) untuk menebarkan ketakutan ke dunia maupun Olympus.

Dengan plot cerita yang berbeda, baik dengan versi aslinya yang diproduksi pada tahun 1981 ataupun dengan kisah mitologinya, film ini diharapkan mengulang kesuksesan Clash of The Titans versi klasik yang sangat laris pada jamannya. Well, mitologi Yunani nampaknya memiliki daya tarik tersendiri bagi para sineas. Namun, jika anda pernah menyaksikan versi klasiknya, ataupun mengenal kisah Perseus dalam mitologi Yunani anda akan merasa sangat kecewa. Dibandingkan dengan versi aslinya yang hampir separuhnya setia pada kisah dalam mitologi Yunani, menyaksikan Clash of The Titans. Nampak seperti kisah dongeng yang sangat klise. Kebencian yang tertanam di benak Perseus pada para dewa (yang menjadi alas an perjalanan Perseus) terlihat bias. Kisahnya terasa kosong, hanya terfokus pada adegan pertempuran yang (seperti stereotip Hollywood) didramatisir sedemikian rupa untuk meninggalkan kesan, namun sayangnya gagal. Alur kisahnya nampak terburu-buru, mengejar satu action sequence ke action sequence selanjutnya.

Dengan efek visual yang sangat baik pada hampir semua adegannya, Louis Letterier mengemas Clash of The Titans menjadi sedikit lebih nyata dari versi aslinya. Sayangnya hanya Medusa, mahluk dalam mitologi Yunani terlihat cukup keren dalam petualangan klasik Perseus ini. Visualisasi Hades, sang penguasa underworld pun terkesan sangat dark and evil, dengan asap hitam dan percikan api pada setiap kemunculannya. Well, setidaknya lebih baik dari Zeus yang berkostum sangat bling-bling yang membuatnya mirip raja disko. Mahluk lain seperti Scorpion dan Kraken, hamper tidak menimbulkan impresi pada saya, lebih-lebih Kraken yang mirip Godzilla bertentakel.

Akting Sam Worthington setidaknya sedikit menyelamatkan film ini. Ia mampu memerankan sosok setengah dewa yang mengalami kegalauan dalam hatinya. Setidaknya hanya ia sosok manusia (setengah dewa) yang punya peran paling dominan dalam film ini. Peran Io (Gemma Arterton) yang seharusnya bisa lebih menonjol, tertelan oleh aktor aktor animasi seperti Scorpion, Medusa dan Kraken.

Well, if one day somebody’s got to make a stand and one day somebody’s got to say enough! I’ll say enough! This movie’s not good enough! At least for me

Have you any idea why Burton made this movie??

Alice in Wonderland, sebuah kisah klasik penuh imajinasi karya Lewis Carroll difilmkan oleh sutradara eksentrik bervisi unik (dan merupakan salah satu favorit saya) Tim burton, sudah cukup memberi alasan untuk menanti film ini. Harapan itu semakin tinggi ketika Johnny Depp kembali bekerjasama untuk yang ketujuh kalinya dengan sutradara ini, ditambah Ny Burton, Helena Bonham Carter yang selalu tampil maksimal dalam kelima film Burton sebelumnya. Namun, ekspektasi berlebih itu bisa jatuh ketika menonton film ini.

Burton mengawali film ini dengan baik, Alice (Mia Wasikowska) yg telah berusia 19 tahun sedang dalam pesta pertunangan. Sebelum Alice menerima pertunangan, ia kabur mengejar seekor kelinci yang membawa jam (Michael Sheen) hingga sampai jatuh ke lubang dan sampai ke sebuah dunia yang belakangan diketahui bernama Underland. Alice kemudian bertemu dengan berbagai makhluk aneh mulai dari tikus bersenjata jarum, Dormouse (Barbara Windsor), si kembar bodoh Tweedledee dan Tweedledum (Matt Lucas), kucing tersenyum Chesire Cat (Stephen Fry), ulat biru bershisha, Absolem (Alan Rickman), hingga Mr. Freak, Mad Hatter (Johnny Depp).

Burton mencampuradukkan cerita dalam kedua buku Lewis Carroll Alice’s Adventure in Wonderland dan Through the Looking-Glass yang sebetulnya tidak saling berhubungan ini, berusaha membuat kisah Alice in Wonderland menjadi lebih fresh. Sayangnya, alih-alih menjadi fresh, malah menjadi klise (di film ini Alice diminta makhluk-makhluk Underland memenuhi takdirnya melawan pemerintahan Red Queen yang kejam. well, sounds like… eeerrr..Disney?). Lalu kenapa Burton harus merubah Wonderland menjadi Underland? Sounds soooo weird…. Rasanya itu hal yang tidak perlu dilakukan, seperti membuang sebuah esensi penting dalam film ini. Aneh sekali . Ending film juga terkesan sangat gampang, aneh, dipaksakan dan terburu-buru, keseluruhan film ini sudah dapat ditebak dengan mudah dari awal. Ya, film ini memang diadaptasi dari serial anak-anak, tapi yang satu ini memang terasa too plain, too simple, too flat….

Beruntung Alice in Wonderland dikemas dalam visualisasi yang menarik khas Tim Burton. Sedikit lega melihat masih ada sedikit sentuhan Burton melalui visualisasi yang berwarna-warni tapi tetap sekaligus memberikan kesan misterius, walaupun terasa tanggung kurang terasa creepy. Namun, Tim Burton, tidak diragukan lagi adalah salah satu sutradara dengan great taste of art dan Alice in Wonderland menjadi buktinya dan visualisasi yang menarik ini nampaknya diharapkan mampu menutupi lemahnya cerita Alice in Wonderland. It’s just visually stunning!Akan tetapi ada bagian dari film ini yang terasa terlalu berlebihan dalam hal CGI, animasi yang ditampilkan terkesan masih ‘setengah matang’. Beberapa karakter semacam Tweedledee dan Tweedledum nampak seperti Ping dan Jing dalam Big Fish bahkan karakter Mad Hatter nampak seperti Willy Wonka dalam Charlie and The Chocolate Factory.

Film ini juga terselamatkan oleh casts yang sangat keren. Aktor senior Johnny Depp yang memerankan The Mad Hatter memang jagonya peran-peran freak seperti ini dan sepertinya ia tidak kesulitan dengan perannya kali ini. Anne Hathaway tampil membawakan karakternya sebagai The White Queen yang sebenarnya agak clumsy, dengan tangan yang selalu melambai-lambai ke sana kemari, but never mind, mungkin memang harus begitu. Ia cukup baik membawakan perannya. Helena Bonham Carter tampil total di balik make-up si ratu hydrochepalus, Red Queen dengan kepala berbentuk hati yang super besar dan bibir love ala Jeng Kelin (memangnya Ny. Burton ini pernah tampil sebagai wanita cantik nan elegan dalam film-film Burton? Paling cantik mungkin saat memerankan Mrs. Buckett dalam Charlie and the Chocolate Factory, dan itu pun dia tampil kumuh). Teriakan, intonasi, dan gelagatnya sangat pas dengan peran yang harus ia mainkan. Seandainya saja peran Alice dimainkan oleh Mia Wasikowska dengan lebih baik, mungkin film ini akan menjadi lebih keren.

Overall, film ini tetap layak untuk ditonton. Ceritanya standar namun dikemas dalam visualisasi yang indah dan sedap dipandang mata. Bagi yang tidak punya harapan terlalu tinggi pada film ini pasti akan sangat terhibur. In the end…it’s NOT A BAD MOVIE at all, it’s surely a good movie for family, but definitely not what I’d expected from Tim Burton.

Saya dan Bunda

Kasih ibu kepada beta

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi, tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

Kasih Ibu – SM Muchtar

Sebuah lagu yang mengingatkan saya kepada ibu saya

Suatu ketika, pernah adik kelas saya mengeluh “Mas, semalem aku ditelepon ibu, ditanya macem-macem gitu. Gak penting banget, mana teleponnya jam satu pagi gitu, kayak gak tau itu waktunya orang bubu’ aja. Insomnia sih Insomnia, tapi ya sendiri aja gak usah ngajak-ajak.” Saya tidak menjawab apapun. Walaupun sebenarnya ingin menjawab “ Kalo ibu kamu minta diantarkan ke rumah sakit dini hari tadi, apa kamu juga bakal menjawab ‘entar aja Mah, aku ngantuk. Ini saja baru mau mimpi’”.

Ya, memang. Saya merasa berhak protes atas keluhannya. Bukan karena saya salah satu pengidap penyakit gak bisa tidur kalo belum dini hari, tapi lebih karena respek saya terhadap sosok Ibunda yang begitu besar (tentu saja tanpa bermaksud mengecilkan peran ayah sebagai orangtua). Bagi saya sosok ibu adalah seseorang yang sangat amat penting sekali, sehingga jika seandainya Tuhan iseng-iseng menawarkan seribu wanita untuk menggantikan ibu saya, tanpa berpikir semilidetikpun jawabannya sudah jelas tidak.

Baca entri selengkapnya »

Analisis Tindakan Tokoh Baldassare Embriarco dalam Roman Le Periple De Baldassare (2)

Landasan Teori

Seperti yang telah dikemukakan dalam permasalahan penelitian, masalah yang akan diteliti adalah tindakan tokoh Baldassare Embriarco, berikut pengaruh tindakan tersebut terhadap interaksi Baldassare dengan tokoh-tokoh lain. Untuk mencari tindakan dan pengaruh tindakan tersebut pada interaksi Baldassare dengan tokoh-tokoh lain, diperlukan analisis mengenai unsur-unsur intrinsik roman Le Periple de Baldassare terutama penokohan, setting dan plot. Dengan demikian, teori yang relevan untuk digunakan dalam penelitian ini adalah teori strukturalisme untuk mencari unsur-unsur intrinsik karya sastra dan teori psikologi sosial khususnya teori interaksi simbolik.

Baca entri selengkapnya »

Analisis Tindakan Tokoh Baldassare Embriarco dalam Roman Le Periple De Baldassare (1)

PENDAHULUAN

Latar Belakang Karya

Membaca sebuah karya fiksi, novel atau cerpen, pada umumnya yang pertama-tama menarik perhatian pembaca adalah ceritanya. Faktor cerita inilah yang terutama mempengaruhi sikap dan selera pembaca terhadap buku yang sudah, sedang atau akan dibacanya. Berdasarkan cerita itu pulalah biasanya orang akan memandang dan menilai karya fiksi tersebut.

Aspek cerita (story) dalam sebuah karya fiksi merupakan hal yang sangat esensial. Ia memiliki peran sentral dalam sebuah karya fiksi. Dari awal hingga akhir karya tersebut yang ditemukan adalah cerita. Cerita, dengan demikian berkaitan erat dengan unsur-unsur pembangun fiksi yang lain. Kelancaran cerita akan dibangun berdasarkan kepaduan unsur-unsur pembangun cerita tersebut. Sebaliknya, tujuan kelancaran cerita bersifat mengikat “kebebasan” unsure pembangun tersebut (Nurgiyantoro, 1995). Forster (1970) menegaskan bahwa cerita merupakan hal yang fundamental dalam sebuah fiksi. Tanpanya, eksistensi sebuah fiksi tidak mungkin terwujud karena cerita sendiri adalah inti sebuah karya fiksi dimana karya fiksi pada hakikatnya adalah cerita rekaan. Forster (1970), Abrams (1981) dan Kenny (1966) mengartikan cerita sebagai urutan peristiwa secara kronologis yang disajikan dalam sebuah karya fiksi. Kaitan waktu dan peristiwa haruslah jelas, dan harus bersebab-akibat sehingga jelas urutan kronologisnya.

Baca entri selengkapnya »

Gone Too Soon – Mengenang Bung Jacko

 

Like A Comet
Blazing ‘Cross The Evening Sky
Gone Too Soon

Like A Rainbow
Fading In The Twinkling Of An Eye
Gone Too Soon
Shiny And Sparkly
And Splendidly Bright
Here One Day
Gone One Night
Like The Loss Of Sunlight
On A Cloudy Afternoon
Gone Too Soon
Like A Castle
Built Upon A Sandy Beach
Gone Too Soon
Like A Perfect Flower
That Is Just Beyond Your Reach
Gone Too Soon
Born To Amuse, To Inspire, To Delight
Here One Day
Gone One Night
Like A Sunset
Dying With The Rising Of The Moon
Gone Too Soon

Michael Jackson’s Gone Too Soon, Dangerous, 1991

Tanggal 25 kemarin, seorang selebritis kembali berpulang. Ya, Michael Jackson "The King of Pop" pada masanya. Cukup kaget juga mendengar kabar itu. Soalnya waktu aku kecil (kalo gag salah jaman TK/SD lah) aku suka sama lagu-lagunya, walaupun masih belum ngerti artinya dan sempet punya satu album yang ‘Dangerous‘.
Terlepas dari segala berita negatif yang mengelilinginya, sebenarnya Jacko perduli banget sama masalah-masalah sosial. Hal ini terlihat jelas dari lirik-lirik lagunya. seperti :

Heal the World,
(Heal the World make it a better place
for you and for me and the entire human race
there are people dying if you care enough for the living
make a better place for you and for me
)
Black or White,
(It Don’t Matter If You’re
Black Or White
)
Why you wanna trip on me,
(They say I’m different
They don’t understand
But there’s a bigger problem
That’s much more in demand
You got world hunger
Not enough to eat
So there’s really no time
To be trippin’ on me
You got school teachers
Who don’t wanna teach
You got grown people
Who can’t write or read
You got strange diseases
Ah but there’s no cure
You got many doctors
That aren’t so sure
So tell me
Why you wanna trip on me
Why you wanna trip on me
Stop trippin’
We’ve got more problems
Than we’ll ever need
You got gang violence
And bloodshed on the street
You got homeless people
With no food to eat
With no clothes on their back
And no shoes for their feet
We’ve got drug addiction
In the minds of the weak
We’ve got so much corruption
Police brutality
We’ve got streetwalkers
Walkin’ into darkness
Tell me
Why are you doing
to try to stop this
)
yang menunjukkan keperduliannya pada isu-isu lingkungan, Rasisme, kemiskinan, malnutrisi, Tuna wisma, HIV/AIDS, jauh sebelum semua orang di dunia menggembar-gemborkan isu lingkungan hidup, diskriminasi dan teman-temannya.
Dunia juga tak mengingkari pengaruhnya yang begitu besar pada perkembangan dunia musik, seperti pengakuan beberapa musisi seperti Kanye West, Usher, Justin Timberlake, dan Chris Brown yang ter-influence oleh aksi King of Pop ini dalam beberapa aksi panggungnya.
Tapi semua itu (semua lagu yang saya sebutkan tadi ada dalam album ke-8 Jacko, ‘Dangerous’ yang dirilis tahun 1991) seolah menguap begitu saja semenjak adanya isu perceraiannya dengan Princess of Rock n Roll, Lisa Marie Presley dan isu child sexual abuse yang dilakukannya, atau bahkan berita miring tentang kulitnya yang memucat semenjak medio 1980-an.
Mengutip kalimat seorang kawan saya yang juga seorang penulis, "Hidup tak melulu tumbuh dari kebaikan, tapi juga dari najis dan dosa". Mungkin teman-teman semua memiliki intrepretasi yang berbeda setelah membaca kalimat tersebut. Tapi memang begitulah hidup, yang hitam bisa disebut hitam karena adanya putih, dan begitu pula sebaliknya. Namun, kadang yang diingat orang hanya noda hitam di atas kertas putih.


I’ve been in the entertainment industry since I was six-years-old… As Charles Dickens says, "It’s been the best of times, the worst of times." But I would not change my career… While some have made deliberate attempts to hurt me, I take it in stride because I have a loving family, a strong faith and wonderful friends and fans who have, and continue, to support me
—Michael Jackson

Keep Rockin’ there Jacko!!

SOSIO-CULTURAL dan SASTRA BANDINGAN

oedipusAbstrak:

Il n’y a pas seulement intertexte comparaison qui on peut compare mais aussi socioculturel comparaison. Les littératures n’est pas seulement influence par l’autre littérature mais aussi l’influence socioculturel dans sa région. Spécialement en les littératures qui ont un grand thème universel comme L’amour, L’héro, Divinité, tragédie etc. on peut trouver ce littérature avec ce grand thème autour le monde. Bien sur il n’y a pas deux littératures qui exactement même. Toujours il y a influence de socioculturel de sa région qui influencée la littérature.

Sastra bandingan adalah sebuah studi teks across cultural. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek waktu dan tempat. Dari aspek waktu, sastra bandingan dapat membandingankan dua atau lebih periode yang berbeda. Sedangkan konteks tempat, akan mengikat satra bandingan menurut wilayah geografis sastra. Konsep ini merepresentasikan bahwa sastra bandingan memang cukup luas, bahkan pada perke mbangan selanjutnya konteks sastra bandingan tertuju pada bandingan sastra dengan bidang lain. Bandingan ini, guna merunut keterkaitan antar aspek kehidupan. Sastra bandingan juga dapat meliputi aspek: pengaruh, sumber ilham (acuan), proses pengambilan ilham atau pengaruh dan tema dasar.

Dalam kamus Websters, dikemukakan bahwa sastra bandingan mempelajari hubungan timbal balik karya sastra dari dua atau lebih kebudayaan nasional yang biasanya berlainan bahasa, dan terutama pengaruh karya sastra yang satu terhadap karya sastra lain. Sementara itu, menurut Rene Wellek dan Austin Warren ada tiga pengertian mengenai sastra bandingan. Pertama, penelitian sastra lisan, terutama tema cerita rakyat dan penyebarannya. Kedua, penyelidikan mengenai hubungan antara

dua atau lebih karya sastra, yang menjadi bahan dan objek penyelidikannya, di antaranya, soal reputasi dan penetrasi, pengaruh dan kemasyhuran karya besar. Ketiga, penelitian sastra dalam

keseluruhan sastra dunia, sastra umum dan sastra universal. Sejalan dengan pendapat Wellek dan Warren, Holman mengungkapkan, bahwa sastra bandingan adalah studi sastra yang memiliki perbedaan bahasa dan asal negara dengan suatu tujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan dan pengaruhnya antara karya yang satu terhadap karya yang lain, serta ciri-ciri yang dimilikinya.

Hal senada juga dikemukakan Remak yang mengungkapkannya sebagai berikut: “Sastra bandingan adalah studi sastra yang melewati batas-batas suatu negara serta hubungan antara sastra dan bidang pengetahuan dan kepercayaan lain.” Ringkasnya, sastra bandingan adalah perbandingan karya sastra yang satu dengan satu atau beberapa karya sastra lain, serta perbandingan karya sastra dengan ekspresi manusia dalam bidang lain. Lebih lanjut Remak menekankan, bahwa perbandingan

antara karya sastra dan bidang di luar sastra hanya dapat diterima sebagai sastra bandingan, jika perbandingan keduanya dilakukan secara sistematis dan bidang di luar sastra itu dapat dipisahkan dan mempunyai pertalian logis.

Namun dalam kenyataannya seringkali ditemukan bahwa hal-hal yang mempengaruhi karya sastra yang memiliki kemiripan bukan hanya sekedar hubungan pengaruh karya sastra satu dan yang lain, namun juga adanya pengaruh secara sosio-historis maupun pengaruh kultural. Terutama pada karya sastra yang bertema universal, seperti cinta, diferensiasi sosial, ketuhanan, kepahlawanan, dan sebagainya.

Perbandingan dalam mitologi nordik (skandinavia) dan mitologi hindu (india) dapat menjadi contoh komparasi dalam tema ketuhanan. Kedua mitologi ini mengenal adanya pohon kehidupan, pohon bagha (dalam mitologi hindu) dan pohon yggdrasill (dalam mitologi nordik). Keduanya juga mengenal pimpinan para dewa, Dyaus (dalam mitologi hindu) dan Odin (dalam mitologi nordik). Selain itu kedua mitologi ini juga mengenal adanya konsep tiga dunia (tri-bhuwana dalam mitologi hindu) yang kemudian diadaptasi oleh mitologi – mitologi yang lebih muda dari kedua mitologi (seperti mitologi mesir kuno atau mitologi yunani) tersebut. Tidak ada catatan historis yang menyebutkan kedua mitologi tersebut saling mempengaruhi. Selain dikarenakan kedua daerah tempat berkembangnya mitologi tersebut berjauhan. Kedua mitologi tersebut juga hanya menyebutkan bahwa dunia manusia hanya terdiri dari satu benua.

Sedangkan perbedaan paling banyak dapat ditemukan dalam karya sastra bertemakan cinta, khususnya pada tema ‘kasih tak sampai’. Contoh paling mudah dapat kita temukan pada karya Romeo dan Juliet (Inggris), Sampek Engtai (China), Lancelot dan Guinevere (anglo saxon), Popocatépetl dan Iztaccíhuatl (Mexico), Layla Majnun (Arab) dan dalam kisah klasik lainnya seperti Paris dan Helen dalam Illiad (yunani), Oedipus dan Jocasta (Yunani). Kisah serupa tak hanya dapat dijumpai dalam karya sstra namun juga berkembang ke dalam serial televisi, film bahkan RPG (role playing games) seperti Buffy dan Angel (Buffy the vampire slayer), Clark Kent dan Lana Lang (Smallville) dalam film pun dapat kita temukan kisah Jack Dawson dan Rose DeWitt Bukater from Titanic, Landon Carter dan Jamie Sullivan dalam "A Walk to Remember", Anakin Skywalker dan Padmé Amidala dalam Star Wars, Christian dan Satine dalam Moulin Rouge! Bahkan Ennis Del Mar dan Jack Twist dalam Brokeback Mountain juga dapat kita masukkan. Dari dalam negeri ada kisah Saijah dan Adinda dalam Max Havellar ataupun dalam legenda terjadinya Tangkuban Perahu.

Persamaan yang mendasari kisah dalam karya-karya sastra tersebut bukan berarti cerita dan plot yang dipakai sama. Dalam Oedipus dan Sangkuriang, kedua tokoh ini ingin menikahi ibunya, karena keduanya tidak tahu bahwa wanita cantik yang ia temui adalah ibunya. Keduanya juga memiliki persamaan yaitu cacat secara fisik, Oedipus pincang dan Sangkuriang memiliki bekas luka di kepalanya. Namun perbedaan mencolok dari kedua karya tersebut adalah Oedipus sempat menikahi Jocasta, ibunya sedangkan Sangkuriang tidak. mengapa Oedipus sempat menjadi suami perempuan yang sebenarnya ibunya sendiri, sedangkan Sangkuriang, menikah pun dengan Dayang Sumbi belum sempat? Tentu saja persoalannya akan menjadi jelas jika kita menghubungkan kultur Sunda pada diri Sangkuriang dengan kultur Barat pada diri Oedipus. Sangat boleh jadi, Oedipus tidak mengenal.Konsep “anak durhaka” dan “surga berada di bawah telapak kaki ibu.”

Masalah yang sama dapat kita kemukakan pada kasus Pariyem dan Nyanyian Lawino. Mengapa Lawino tampil sebagai sosok perempuan kasar, pemberang dan berangasan dibandingkan Pariyem yang sumarah, minder, manut. Mengapa pula dalam cerita-cerita fabel di Eropa, tokoh Serigala selalu tampil sebagai tokoh yang cerdik dan sering muncul sebagai “mesias”, dewa penolong, sedangkan dalam cerita fabel Nusantara, tokoh seperti itu diwakili oleh tokoh kancil, sebaliknya tokoh Serigala tampil sebagai tokoh jahat, rakus, dan serakah? Tentu saja ini berkaitan dengan latar belakang sosiokultural yang berlaku di masyarakat masing-masing.

Banyak contoh serupa masih dapat kita perpanjang. Namun, yang jelas bahwa penjelasan sosiokultural dalam studi sastra bandingan agaknya, perlu mendapat tekanan, betapapun itu memerlukan disiplin ilmu lain. Dengan cara ini, niscaya studi sastra bandingan akan memberi sumbangan berarti bagi usaha memahami kebudayaan suatu bangsa. Dengan cara itu pula, terbuktilah bahwa bahasa (: sastra) merupakan juga cerminan identitas bangsa.

Film = Perspective + Mise en Scene

seven_xl_01--film-B

Extrait

Mise en scène et le point de vue du réalisateur a grand influence d’un film. Mise en scène peut attirer les spectateur pour voir le monde dans le film en même perspective du realisateur. Tous les éléments de la mise en scène doit être uniter et expliquer à les spectateur de vue de la realisateur.

Un bon film est  un film qui peut impliquer émotionnellement avec les spectateur à leur égard. Alors que les spectateurs toujours hâte à ce qui va être vu et ce qui se passera ensuite. Les spectateurs sont toujours esperent  choses. un bon film peut faire un catharsis a ses spectateurs

A. Pengertian Mise en Scene dan Perspektif

Mise en scene adalah istilah bahasa Prancis yang berarti meletakkan dalam scene. Mise en scene merupakan segala yang kita lihat di dalam sebuah film, semua yang tampak di layar. Mulai dari setting tempat,  kostum, make up, pencahayaan, dan ekspresi figur dan gerakan. Mise en Scene meliputi fungsi sebuah scene dalam film. Apakah itu untuk menjelaskan sesuatu, ataukah untuk kesan dramatik, semua tergantung dari kebutuhan film itu sendiri. Penyusunan elemen – elemen dalam Mise en Scene juga sangat penting karena hal ini menimbulkan berbagai macam hal lain seperti harapan tokoh dalam scene tersebut, permasalahannya, dan lain – lain. Mise en Scene juga yang nantinya akan membuat penonton penasaran dan akan mengembangkan keingintahuan penonton tentang sebuah scene, bahkan sebuah film.

Baca entri selengkapnya »

Love is Inescapable… really??

Harry_Houdini_by_gpr117

Terjadi perdebatan seru antara dua orang teman saya saat judul tulisan ini saya jadikan status di akun facebook saya. Yang satu mendukung, yang satu menyangkal. I appreciate you two, Pals!!

Love is Inescapable….

Love is Inescapable, kurang lebih artinya Cinta itu menjerat (tidak bisa melarikan diri. Inescapable(adj:impossible to avoid or evade)). Menurut teman saya, cinta itu seperti jerat. Yang dapat menjeratmu meskipun kamu tidak ingin terkena jeratnya, sedangkan pendapat lainnya menuliskan bahwa selalu ada tempat untuk menghindar dari cinta, untuk bersembunyi dari si Cinta.

 

Saya tidak mau membenarkan salah satu dari pendapat itu. For me, if it’s true that love is an inescapable trap, i wanna fall to the ‘right’ trap, so I dont have to escape from love. I can enjoy it.

Toh sampai sekarang bisa dihitung berapa kali saya terjatuh dalam jeratan cinta yang salah. Meskipun hati ini nggrantes hancur lebur berantakan. Tapi anehnya saya nggak kapok juga. Saya berusaha menikmati rasa clekit-clekit yang menusuk-nusuk hati saya kala saya jatuh pada lubang cinta yang salah. Toh, selalu ada pelajaran yang bisa saya petik dari setiap relationship itu. seperti quote favorite teman saya “ Just Enjoy!”

BeTeWe, kata Love is Inescapable itu saya temukan dari tagline film “Death Defiying Acts”. Film itu tentang seorang Escapologis terkenal, siapa lagi kalo bukan si Harry Houdini. Saya belum lihat filmnya seperti apa, ceritanya gimana, saat tulisan ini dinaikkan, tapi ketika membaca tagline itu dan baca sekilas sinopsisnya. komentar saya hanya “Houdini saja tidak bisa melarikan diri dari Cinta”

 

image source: http://gpr117.deviantart.com/art/Harry-Houdini-85710541

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.