Extrait
Mise en scène et le point de vue du réalisateur a grand influence d’un film. Mise en scène peut attirer les spectateur pour voir le monde dans le film en même perspective du realisateur. Tous les éléments de la mise en scène doit être uniter et expliquer à les spectateur de vue de la realisateur.
Un bon film est un film qui peut impliquer émotionnellement avec les spectateur à leur égard. Alors que les spectateurs toujours hâte à ce qui va être vu et ce qui se passera ensuite. Les spectateurs sont toujours esperent choses. un bon film peut faire un catharsis a ses spectateurs
A. Pengertian Mise en Scene dan Perspektif
Mise en scene adalah istilah bahasa Prancis yang berarti meletakkan dalam scene. Mise en scene merupakan segala yang kita lihat di dalam sebuah film, semua yang tampak di layar. Mulai dari setting tempat, kostum, make up, pencahayaan, dan ekspresi figur dan gerakan. Mise en Scene meliputi fungsi sebuah scene dalam film. Apakah itu untuk menjelaskan sesuatu, ataukah untuk kesan dramatik, semua tergantung dari kebutuhan film itu sendiri. Penyusunan elemen – elemen dalam Mise en Scene juga sangat penting karena hal ini menimbulkan berbagai macam hal lain seperti harapan tokoh dalam scene tersebut, permasalahannya, dan lain – lain. Mise en Scene juga yang nantinya akan membuat penonton penasaran dan akan mengembangkan keingintahuan penonton tentang sebuah scene, bahkan sebuah film.
Sementara secara harfiah dalam istilah film, perspektif dikaitkan dengan teknis dalam sebuah film. Perspektif adalah penggunaan lensa wide, tele, atau zoom yang mempengaruhi angle dari setiap shot. Seperti yang sudah dipelajari bahwa aturan sistematis tentang perspektif adalah sesuatu yang sangat sederhana. Objek yang letaknya dekat akan terlihat besar sementara objek yang jauh letaknya akan terlihat kecil. Meskipun ukuran sebenarnya sangat besar, seperti gedung pencakar langit, namun karena adanya perspektif, gedung pun terlihat kecil dari jauh. Semisal kita sedang berada di pantai dan melihat ke arah lautan di mana matahari sedang terbenam. Kita akan melihat seakan laut dan langit menyatu di ujung horizon. Matahari menempel di atas laut yang semakin malam akan semakin tenggelam dalam laut. Anggapan bahwa laut dan langit menempel di horizon disebabkan adanya perspektif.
Sistem optikal dari mata kita adalah mengenali bias cahaya yang direfleksikan sebuah pemandangan atau scene. Refleksi ini akan bermuatan berbagai informasi seperti hubungan antara skala, kedalaman, dan ruang antara elemen – elemen yang ada di dalam scene. Hubungan ini disebut hubungan perspektif.
Perbedaan kamera dan mata hanyalah terletak lensa fotografik yang ada pada kamera. Lensa kamera memungkinkan terjadinya zoom in atau zoom out yang tidak mungkin dilakukan oleh retina mata. Setiap tipe lensa kamera memiliki hubungan perspektif yang berbeda – beda tergantung dari kebutuhannya.
B. Hubungan Sutradara dengan Mise en Scene dan Perspektif
Seorang sutradara sebagai seorang storyteller adalah orang yang menciptakan Mise en Scene dalam filmnya. Sutradara harus sangat memahami apa makna dari Mise en Scene dan dapat menciptakan Mise en Scene sesuai dengan mood atau suasana yang diinginkan. Tetapi dalam hal ini, sutradara tidak bisa seenaknya memperlihatkan apa yang diinginkan penonton. Contohnya ketika adegan berkelahi, penonton ingin jagoannya atau tokoh protagonis yang menang. Sebagai seorang sutradara, yang merupakan pusat ide sebuah film, harus dapat mencari cara lain yang membelokkan ekspektasi penonton akan adegan yang akan terjadi selanjutnya. Hal ini akan membuat sebuah film menjadi lebih menarik karena tidak mudah ditebak.
Sutradara yang merepresentasikan dirinya dalam sebuah film harus memahami bahwa film dibuat untuk memperlihatkan apa yang harus penonton lihat. Bukan apa yang diinginkan penonton. Apabila sutradara hanya memperlihatkan apa yang ingin penonton lihat, hal ini belum tentu mengandung kebenaran.
Seorang sutradara yang handal harus dapat memperlihatkan kebenaran pada penonton, bukan kebenaran yang diinginkan penonton. Hal ini sangat berguna untuk mendidik masyarakat atau penonton, karena film merupakan alat yang ampuh untuk pendidikan. Film dapat mempengaruhi orang dan kedahsyatan kekuatan sebuah film sangat besar. Banyak sekali film yang dibuat untuk propaganda, karena film memang memiliki kemampuan untuk membius penontonnya.
Sebuah film adalah perspektif dari siapa yang membuatnya. Bahkan film yang menceritakan tentang seseorang juga merupakan sudut pandang dari penulis, sutradara, atau siapa pun pencetus idenya. Film tidak bisa lepas dari sebuah point of view atau perspektif. Contoh yang paling sederhana adalah penggunaan narasi. Terdapat dua macam narasi yang sering digunakan dalam film, yaitu narasi maha tahu atau omni scient dan narasi tokoh atau first person point of view. Omni scient adalah narasi yang maha tahu, seperti suara Tuhan yang tahu setiap kejadian dari berbagai tokoh dalam film. Sementara first person point of view adalah perspektif dari tokoh utama.
C. Penciptaan Mise en Scene Melalui Perspektif
Sudut pandang atau perspektif merupakan unsur yang penting dalam Mise en Scene. Malah bisa dibilang perspektiflah yang menjadi dasar penciptaan Mise en Scene. Kita dapat menimbang dalam film kita sudut pandang siapakah yang akan kita gunakan. Sudut pandang siapa yang memiliki dominasi kuat dalam cerita film kita. Seorang sutradara juga harus dapat menjawab sendiri mengapa sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang yang subjektif ketimbang objektif. Karena sutradara adalah jawaban dari seribu pertanyaan. Sutradara yang memiliki hak untuk membubuhkan tanda tangannya di sudut kiri layar, karena ia adalah orang yang bekerja paling keras dalam pembuatan sebuah film. Perspektif sutradara adalah sumber penciptaan.
Konsep ide mendahului teknis bisa sangat mempengaruhi penciptaan Mise en Scene berdasarkan perspektif tertentu, kemudian menghubungkannya dengan Mise en Scene.
Salah satu unsur Mise en Scene yang utama adalah setting. Setting merupakan tempat terjadinya cerita. Setting diciptakan berdasarkan berbagai pertimbangan seperti keterpaduan dan kesinambungan grafis, misalnya kesinambungan dominasi warna merah pada setting. Konsistensi dalam pemakaian warna tersebut berhubungan dengan dimensi grafis dan continuity dari cerita tersebut. Setting sangat berperan penting dalam film. Setting dapat menjadi cerita meskipun tanpa aktor.
Kostum dan make-up bisa menjadi cara untuk memenuhi dimensi grafis yang kreatif. Sekali lagi konsistensi pemakaian model, tren ataupun warna dari kostum dan make-up sangat bergantung pada sudut pandang sutradara dalam menggarap ceritanya. Selain itu, kostum bisa menjadi simbol akan satu jaman, negara, maupun ideologi tertentu.
Kostum selalu dekat dengan setting. Setting menyediakan latar belakang yang natural dan sesuai dengan cerita sementara kostum membangun identitas dari karakter tokoh. Kostum bisa menonjolkan sifat dari tokoh. Penampilan tokoh yang pendiam dan pesolek tentu akan sangat berbeda, tergantung dari konteks dramatik yang diinginkan sutradara.
Pencahayaan pada jaman sekarang menjadi salah satu kunci untuk membangun kesan dan mood dari cerita. Cahaya dapat memanipulasi ruang dan bisa menjadi penguat satu hal. Dalam film detektif, seorang penjahat yang memiliki banyak rencana jahat tidak akan ditampilkan dengan cahaya yang terang benderang. Permainan cahaya bisa menjadi sesuatu yang kreatif, karena secara tidak sadar, cahaya ternyata memberikan impresi yang berbeda bagi setiap benda yang terkena pantulannya.
Saat ini cahaya berperan penting. Pada sinema Hollywood, cahaya sudah mempunyai sebuah patokan sendiri yang selalu diterapkan, yaitu three point lighting. Di mana sumber cahaya berada di tiga titik (backlight, fill light, dan key light) yang berbeda yang memiliki fungsi berbeda.
Ekspresi figure berkaitan dengan acting, penampilan dan bahasa tubuh tokoh yang ada di dalam film. Tokoh di dalam film tidak selalu harus hidup. Dalam beberapa film horror, rumah bisa menjadi tokoh utama. Pengarahan acting dan ekspresi figure semuanya dilakukan oleh sutradara sesuai dengan keinginan seberapa besarnya kadar realis yang ingin ditampilkan.
D. Film adalah sudut pandang
Seperti yang kita ketahui, film dibuat oleh orang – orang yang berbeda. Pada dasarnya film adalah cara seorang filmmaker dalam memandang dunianya. Film adalah dunia yang diciptakan filmmaker sesuai dengan apa yang ia rasakan, ia alami, ia lihat dan ia inginkan. Singkatnya, film tanpa perspektif bukanlah film. Dengan adanya perspektif dalam memandang dunia, filmmaker terpacu untuk menciptakan satu dunia baru sesuai dengan imajinasinya. Berdasarkan perspektifnya tentang dunia, maka filmmaker akan menciptakan Mise en Scene yang akan terlihat di layar.
Perbedaan sudut pandang bisa mengubah sebuah ide yang sangat sederhana, menjadi ratusan cerita yang bisa sangat berlawanan. Sehingga seorang sutradara tidak perlu khawatir bila ide ceritanya di ambil oleh orang lain, karena hasil yang akan dibuat pasti akan berbeda. Baik dari naratifnya hingga ke Mise en Scene. Segala hal yang ada di dunia ini hanyalah masalah perbedaan sudut pandang. Berbagai konflik yang terjadi, hukum, sosial, agama semuanya disebabkan karena perbedaan persepsi yang diselipi ego personal.
Di sinilah kepekaan seorang filmmaker diuji. Dengan begitu maraknya gejolak dalam masyarakat, filmmaker diharapkan peka terhadap segala hal yang terjadi dalam masyarakat. Karena dari berbagai referensi tersebut, dapat menambah kaya ide seorang sutradara dan membuatnya lebih kreatif dalam menciptakan Mise en Scene.
Perbedaan sudut pandang tidak hanya berlaku bagi filmmaker, tetapi juga bagi penonton. Jutaan kepala dengan perspektifnya sendiri-sendiri yang disebabkan oleh perbedaan usia, jenis kelamin, pengalaman hidup, kondisi ekonomi, dan lain – lain bisa menjadi penyebab dari perbedaan pandangan. Hidup dan pengalaman adalah guru terbaik yang membentuk karakter dan pribadi seseorang.
Penonton dapat menilai sebuah film baik atau buruk tergantung dari pendapatnya. Seperti kata – kata klasik, cantik tu relatif. Karena tidak ada seorang pun yang dapat mendefinisikan kata cantik yang disetujui semua orang. Tidak ada yang dapat membuat konvensi tentang sesuatu yang cantik. Karena perbedaan pandangan yang menyebabkan semua itu.
Sebuah film yang dianggap pembuatnya sebagai karya seni bernilai seni tinggi bisa dianggap sampah oleh orang lain. Karena perspektif bisa juga disebut selera. Selera seseorang akan segala hal yang ada di dunia ini.
Sutradara harus dapat terus dengan produktif menghasilkan karya – karya yang menurutnya baik. Membuat segala macam karya dengan sepenuh hati bukan hanya menimbulkan kepuasan diri, tetapi juga dapat mengubah pandangan orang tentang sesuatu.
Sutradara adalah individu yang menciptakan Mise en Scene dari perspektif-nya. Sutradara adalah "Tuhan" dari dunia yang ia ciptakan. Mise en Scene dan perspektif tidak dapat dipisahkan karena film adalah sebuah gabungan Mise en Scene yang dihasilkan dari sebuah perspektif.
