PENDAHULUAN
Latar Belakang Karya
Membaca sebuah karya fiksi, novel atau cerpen, pada umumnya yang pertama-tama menarik perhatian pembaca adalah ceritanya. Faktor cerita inilah yang terutama mempengaruhi sikap dan selera pembaca terhadap buku yang sudah, sedang atau akan dibacanya. Berdasarkan cerita itu pulalah biasanya orang akan memandang dan menilai karya fiksi tersebut.
Aspek cerita (story) dalam sebuah karya fiksi merupakan hal yang sangat esensial. Ia memiliki peran sentral dalam sebuah karya fiksi. Dari awal hingga akhir karya tersebut yang ditemukan adalah cerita. Cerita, dengan demikian berkaitan erat dengan unsur-unsur pembangun fiksi yang lain. Kelancaran cerita akan dibangun berdasarkan kepaduan unsur-unsur pembangun cerita tersebut. Sebaliknya, tujuan kelancaran cerita bersifat mengikat “kebebasan” unsure pembangun tersebut (Nurgiyantoro, 1995). Forster (1970) menegaskan bahwa cerita merupakan hal yang fundamental dalam sebuah fiksi. Tanpanya, eksistensi sebuah fiksi tidak mungkin terwujud karena cerita sendiri adalah inti sebuah karya fiksi dimana karya fiksi pada hakikatnya adalah cerita rekaan. Forster (1970), Abrams (1981) dan Kenny (1966) mengartikan cerita sebagai urutan peristiwa secara kronologis yang disajikan dalam sebuah karya fiksi. Kaitan waktu dan peristiwa haruslah jelas, dan harus bersebab-akibat sehingga jelas urutan kronologisnya.
Baca entri selengkapnya »