Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia
Kasih Ibu – SM Muchtar
Sebuah lagu yang mengingatkan saya kepada ibu saya
Suatu ketika, pernah adik kelas saya mengeluh “Mas, semalem aku ditelepon ibu, ditanya macem-macem gitu. Gak penting banget, mana teleponnya jam satu pagi gitu, kayak gak tau itu waktunya orang bubu’ aja. Insomnia sih Insomnia, tapi ya sendiri aja gak usah ngajak-ajak.” Saya tidak menjawab apapun. Walaupun sebenarnya ingin menjawab “ Kalo ibu kamu minta diantarkan ke rumah sakit dini hari tadi, apa kamu juga bakal menjawab ‘entar aja Mah, aku ngantuk. Ini saja baru mau mimpi’”.
Ya, memang. Saya merasa berhak protes atas keluhannya. Bukan karena saya salah satu pengidap penyakit gak bisa tidur kalo belum dini hari, tapi lebih karena respek saya terhadap sosok Ibunda yang begitu besar (tentu saja tanpa bermaksud mengecilkan peran ayah sebagai orangtua). Bagi saya sosok ibu adalah seseorang yang sangat amat penting sekali, sehingga jika seandainya Tuhan iseng-iseng menawarkan seribu wanita untuk menggantikan ibu saya, tanpa berpikir semilidetikpun jawabannya sudah jelas tidak.
Memang ibu saya tidak begitu pandai memasak. Namun, itu bukan masalah, toh untungnya saya dilahirkan dengan dianugrahi indra pengecap yang hanya mengenal rasa enak dan enak sekali. Ibu juga bisa dibilang sangat memperhatikan bagian-bagian terkecil tubuh saya yang tidak pernah terperhatikan seperti rambut atau kuku yang sudah mulai panjang nggak beraturan (kalo boleh kasar, ini biasanya disebut kecerewetan seorang ibu). Ibu juga selalu mengingatkan saya untuk selalu mandi. Kadangkala sewaktu jauh dari rumah, saya merasa kehilangan teriakan “Va, mandi dulu!” atau “Potong rambut sana!”. Sumpah, saya lebih suka diingatkan ibu dari pada diingatkan oleh mas Bram, teman satu kontrakan di Jogja, biarpun sering mangkir dari pada menjalankan hal seperti mandi dan potong rambut dengan berbagai alasan tentunya. Banyak sekali hal-hal yang bisa dikeluhkan tentang ibu dan ketidaksempurnaannya, namun hal itu tidak pernah terpikir dan tidak pernah terucap. Saya mencintai ibu saya dengan semua ketidaksempurnaannya.
Saya bukan cuma sekali dua kali tidak sependapat dengan ibu. Namun sungguh, saya tidak pernah sampai berani memaki ibu biarpun hanya di dalam hati, sedongkol apapun perasaan saya saat itu. Padahal saya termasuk orang yang vulgar dalam mengekpresikan perasaan termasuk lewat cara memaki tersebut (Well, bagi saya memaki bukan hal yang tabu). Saya masih ingat betul ketelatenan ibu saya dalam mengajari membaca, sehingga saya bisa berbangga mengatakan, saya sudah bisa membaca sebelum masuk taman kanak-kanak. Ibu yang sampai melempar sandal saat saya dengan bandelnya menolak disuruh belajar saat mendekati ebtanas SD. Namun, karena peristiwa itulah saya bisa membanggakan nilai ebtanas SD yang 47,70 itu. Bahkan bisa dibilang karena ibu, saya bisa masuk sekolah menengah favorit di Klaten sejak SMP, SMA dan bahkan ibu pula yang memaksa saya terus kuliah walaupun saya sudah ngeyel mau rehat dulu satu tahun. Ibu memang hanya lulusan SMA, namun beliau ingin saya menuntut ilmu setinggi-tingginya. Bagi kebanyakan orang, jika dibandingkan dengan ibu-ibu yang lain, ibu saya memang tidak ada apa-apanya, tidak istimewa. Namun saya mencintainya dengan tulus.
Bisa jadi saya bukan apa-apa jika hidup tanpa ibu saya. Pernah suatu ketika, dengan mengingat ibu pula, saya bisa menasehati seorang teman (yang lebih tua dari saya) saat hubungannya dengan pacarnya tidak disetujui oleh ayahnya, “Asal ibu kamu udah setuju, sekeras apapun ayahmu pasti dibolehin kok.” Ibu saya juga secara tidak langsung mengajari sebuah prinsip yang menjadi pegangan hidup sejak beberapa tahun terakhir ini, bahwa hidup itu pilihan, dan saat kamu memutuskan untuk memilih, kamu harus siap dengan segala konsekuensinya. Membaca sebuah esai seorang sahabat yang berjudul ‘Indulgensia Bunda’ kemarin sore, saya jadi tersadar, fisik saya mungkin baru lahir tanggal 10 November 1987, namun jiwa dan kepribadian saya sudah terbentuk sejak 13 Februari 1966.
Bulan Agustus ini ada dua teman yang ibundanya dipanggil Tuhan. Well, yang harus terjadi memang harus terjadi. Setiap kali mendengar kabar duka tersebut saya merasa seolah-olah Tuhan berkata “Bisa jadi besok giliran Mama-mu yang Aku panggil.”. Memang, cepat atau lambat kehilangan itu adalah hal yang pasti akan terjadi. Namun, saya berharap dan terus berdoa supaya ibu tetap sehat dan diberi umur yang cukup sehingga masih sempat menyaksikan saya wisuda, masih sempat mengantar saya lamaran, masih sempat menimang cucunya dan masih banyak lagi momen-momen yang ingin saya bagi dengan ibu. Saya menyadari, sekalipun sisa waktu dalam hidup saya ini digadaikan, masih saja kurang untuk membalas jasa seorang ibu yang sangat amat besar dalam hidup saya.
Satu ibu bernama Valentina Sus Indriastuti sudah pasti menjadi orang teratas dalam daftar sosok yang harus disyukuri karena telah ada dalam hidup seorang Andreas Avelinus Nova Kharismawan.
Mom, I love you. Deeply.

chEriA berkata,
Desember 8, 2009 pada 11:24 am
ttp bisa merasakan BESARnya kasih seorang bunda, meski telah bertahun2 tidak berjumpa.
Va, tulisan ini HamPIR membuatQ menangis, (bahkan sblm di post di blog ini, saat masih berbentuk ketikan folio yg kw tunjukkan padaku di pondokan Tegalrejo) nyaris..
Berbahagialah wanita yang bernama Valentina Sus Indriastuti, dianugerahkan seorang putera yg MENGERTI & MemAHAMI betapa besar kasih sayang yg ia Berikan.