Have you any idea why Burton made this movie??

Alice in Wonderland, sebuah kisah klasik penuh imajinasi karya Lewis Carroll difilmkan oleh sutradara eksentrik bervisi unik (dan merupakan salah satu favorit saya) Tim burton, sudah cukup memberi alasan untuk menanti film ini. Harapan itu semakin tinggi ketika Johnny Depp kembali bekerjasama untuk yang ketujuh kalinya dengan sutradara ini, ditambah Ny Burton, Helena Bonham Carter yang selalu tampil maksimal dalam kelima film Burton sebelumnya. Namun, ekspektasi berlebih itu bisa jatuh ketika menonton film ini.

Burton mengawali film ini dengan baik, Alice (Mia Wasikowska) yg telah berusia 19 tahun sedang dalam pesta pertunangan. Sebelum Alice menerima pertunangan, ia kabur mengejar seekor kelinci yang membawa jam (Michael Sheen) hingga sampai jatuh ke lubang dan sampai ke sebuah dunia yang belakangan diketahui bernama Underland. Alice kemudian bertemu dengan berbagai makhluk aneh mulai dari tikus bersenjata jarum, Dormouse (Barbara Windsor), si kembar bodoh Tweedledee dan Tweedledum (Matt Lucas), kucing tersenyum Chesire Cat (Stephen Fry), ulat biru bershisha, Absolem (Alan Rickman), hingga Mr. Freak, Mad Hatter (Johnny Depp).

Burton mencampuradukkan cerita dalam kedua buku Lewis Carroll Alice’s Adventure in Wonderland dan Through the Looking-Glass yang sebetulnya tidak saling berhubungan ini, berusaha membuat kisah Alice in Wonderland menjadi lebih fresh. Sayangnya, alih-alih menjadi fresh, malah menjadi klise (di film ini Alice diminta makhluk-makhluk Underland memenuhi takdirnya melawan pemerintahan Red Queen yang kejam. well, sounds like… eeerrr..Disney?). Lalu kenapa Burton harus merubah Wonderland menjadi Underland? Sounds soooo weird…. Rasanya itu hal yang tidak perlu dilakukan, seperti membuang sebuah esensi penting dalam film ini. Aneh sekali . Ending film juga terkesan sangat gampang, aneh, dipaksakan dan terburu-buru, keseluruhan film ini sudah dapat ditebak dengan mudah dari awal. Ya, film ini memang diadaptasi dari serial anak-anak, tapi yang satu ini memang terasa too plain, too simple, too flat….

Beruntung Alice in Wonderland dikemas dalam visualisasi yang menarik khas Tim Burton. Sedikit lega melihat masih ada sedikit sentuhan Burton melalui visualisasi yang berwarna-warni tapi tetap sekaligus memberikan kesan misterius, walaupun terasa tanggung kurang terasa creepy. Namun, Tim Burton, tidak diragukan lagi adalah salah satu sutradara dengan great taste of art dan Alice in Wonderland menjadi buktinya dan visualisasi yang menarik ini nampaknya diharapkan mampu menutupi lemahnya cerita Alice in Wonderland. It’s just visually stunning!Akan tetapi ada bagian dari film ini yang terasa terlalu berlebihan dalam hal CGI, animasi yang ditampilkan terkesan masih ‘setengah matang’. Beberapa karakter semacam Tweedledee dan Tweedledum nampak seperti Ping dan Jing dalam Big Fish bahkan karakter Mad Hatter nampak seperti Willy Wonka dalam Charlie and The Chocolate Factory.

Film ini juga terselamatkan oleh casts yang sangat keren. Aktor senior Johnny Depp yang memerankan The Mad Hatter memang jagonya peran-peran freak seperti ini dan sepertinya ia tidak kesulitan dengan perannya kali ini. Anne Hathaway tampil membawakan karakternya sebagai The White Queen yang sebenarnya agak clumsy, dengan tangan yang selalu melambai-lambai ke sana kemari, but never mind, mungkin memang harus begitu. Ia cukup baik membawakan perannya. Helena Bonham Carter tampil total di balik make-up si ratu hydrochepalus, Red Queen dengan kepala berbentuk hati yang super besar dan bibir love ala Jeng Kelin (memangnya Ny. Burton ini pernah tampil sebagai wanita cantik nan elegan dalam film-film Burton? Paling cantik mungkin saat memerankan Mrs. Buckett dalam Charlie and the Chocolate Factory, dan itu pun dia tampil kumuh). Teriakan, intonasi, dan gelagatnya sangat pas dengan peran yang harus ia mainkan. Seandainya saja peran Alice dimainkan oleh Mia Wasikowska dengan lebih baik, mungkin film ini akan menjadi lebih keren.

Overall, film ini tetap layak untuk ditonton. Ceritanya standar namun dikemas dalam visualisasi yang indah dan sedap dipandang mata. Bagi yang tidak punya harapan terlalu tinggi pada film ini pasti akan sangat terhibur. In the end…it’s NOT A BAD MOVIE at all, it’s surely a good movie for family, but definitely not what I’d expected from Tim Burton.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.