Olympus Move To The States!!

Salah satu hal yang paling banyak diingat tentang negara Yunani adalah mitologinya. Dunia perfilman pun sudah berkali-kali mengangkat mitologi tersebut ke layar lebar. Salah satunya dalam kisah Percy Jackson and The Lightning Thief. Dengan mengkombinasikan mitologi Yunani dengan setting modern, film yang diangkat dari novel Rick Riordan ini menceritakan tentang kisah seorang anak demigod bernama Percy Jackson (Logan Lerman) yang entah kenapa dituduh mencuri petir milik Zeus (Sean Bean). Bersama dua orang temannya, Grover (Brandon T. Jackson) dan Putri Athena, Annabeth (Alexandra Daddario), ia berusaha membuktikan dirinya tidak bersalah.

Walaupun premis cerita ini cukup menarik, banyak kejanggalan yang cukup mengganjal ketika direalisasikan dalam bentuk film. Jujur saja ada dua pertanyaan yang masih menggantung di benak saya saat melihat film ini yang tak terjawab dengan tuntas sampai akhir film. Yang pertama mengapa Zeus menuduh Percy Jackson mencuri petirnya, dan bagaimana cara si pencuri mencuri petir Zeus. Sementara dewa-dewa yang muncul disini, terutama tiga bersaudara Zeus, Poisedon (Kevin McKidd) dan Hades (Steve Coogan) digambarkan sangat powerful. Well, kesan yang tertinggal di benak saya ketika film ini berakhir mungkin hanya soundtrack Highway to Hell-nya AC/DC yang diputar saat Percy dan kawan-kawannya memulai perjalanan menuju Tartarus, underworld dalam mitologi Yunani (yang ternyata terletak di belakang tulisan Hollywood) dan penampilan Hades yang sangat rock n roll (kata Grover “Look like Mick Jagger things”).

Penampilan Logan Lerman pun nampak kurang impresif sebagai anak seorang dewa, lebih-lebih dia memerankan tokoh sentral cerita. Alexandra Daddario juga terkesan kurang garang untuk memerankan tokoh gadis petarung. Penampilan Pierce Brosnan sebagai Mr. Brunner / Chiron dan Uma Thurman sebagai Medusa pun nampaknya tidak terlalu signifikan.

Chris Colombus, sang sutradara nampaknya masih menggunakan formula yang sama dengan dua film Harry Potter yang pernah dibesutnya. Banyak elemen yang membuat film ini sekilas terkesan mirip dengan Harry Potter. Seperti adanya tiga tokoh utama, dua lelaki dan seorang perempuan, yang mengingatkan kita pada Harry, Hermione dan Ron. Benda-benda sakti para dewa yang dimodernkan, seperti kasut terbang Hermes yang dalam film ini menjadi sepatu kets bersayap, yang sekilas mirip golden snitch.

Sebagai hiburan, film ini cukup layak disaksikan. Secara visualpun, walaupun cukup standar untuk film semodel ini, cukup mengesankan. Sayangnya, akhir cerita dari film ini tidak memberi kita clue akan kemunculan sekuelnya. Sehingga masih muncul muncul pertanyaan apakah film ini akan berlanjut, seperti novelnya yang sudah sampai seri kelima? Well, let’s see. Semoga saja sekuelnya lebih impresif dari film pertama yang kesannya sangat biasa.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.