<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Alter Ego</title>
	<atom:link href="http://andreasnova.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://andreasnova.wordpress.com</link>
	<description>Hanya ingin menulis</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Apr 2010 13:31:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='andreasnova.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Alter Ego</title>
		<link>http://andreasnova.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://andreasnova.wordpress.com/osd.xml" title="Alter Ego" />
	<atom:link rel='hub' href='http://andreasnova.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Olympus Move To The States!!</title>
		<link>http://andreasnova.wordpress.com/2010/04/23/olympus-move-to-the-states/</link>
		<comments>http://andreasnova.wordpress.com/2010/04/23/olympus-move-to-the-states/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 13:31:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andreasnova.wordpress.com/2010/04/23/olympus-move-to-the-states/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu hal yang paling banyak diingat tentang negara Yunani adalah mitologinya. Dunia perfilman pun sudah berkali-kali mengangkat mitologi tersebut ke layar lebar. Salah satunya dalam kisah Percy Jackson and The Lightning Thief. Dengan mengkombinasikan mitologi Yunani dengan setting modern, film yang diangkat dari novel Rick Riordan ini menceritakan tentang kisah seorang anak demigod bernama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=36&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu hal yang paling banyak diingat tentang negara Yunani adalah mitologinya. Dunia perfilman pun sudah berkali-kali mengangkat mitologi tersebut ke layar lebar. Salah satunya dalam kisah <b><i>Percy Jackson and The Lightning Thief</i></b>. Dengan mengkombinasikan mitologi Yunani dengan setting modern, film yang diangkat dari novel Rick Riordan ini menceritakan tentang kisah seorang anak <i>demigod </i>bernama Percy Jackson (Logan Lerman) yang entah kenapa dituduh mencuri petir milik Zeus (Sean Bean). Bersama dua orang temannya, Grover (Brandon T. Jackson) dan Putri Athena, Annabeth (Alexandra Daddario), ia berusaha membuktikan dirinya tidak bersalah.
<p>Walaupun premis cerita ini cukup menarik, banyak kejanggalan yang cukup mengganjal ketika direalisasikan dalam bentuk film. Jujur saja ada dua pertanyaan yang masih menggantung di benak saya saat melihat film ini yang tak terjawab dengan tuntas sampai akhir film. Yang pertama mengapa Zeus menuduh Percy Jackson mencuri petirnya, dan bagaimana cara si pencuri mencuri petir Zeus. Sementara dewa-dewa yang muncul disini, terutama tiga bersaudara Zeus, Poisedon (Kevin McKidd) dan Hades (Steve Coogan) digambarkan sangat <i>powerful</i>. Well, kesan yang tertinggal di benak saya ketika film ini berakhir mungkin hanya soundtrack <i>Highway to Hell</i>-nya AC/DC yang diputar saat Percy dan kawan-kawannya memulai perjalanan menuju Tartarus, <i>underworld</i> dalam mitologi Yunani (yang ternyata terletak di belakang tulisan Hollywood) dan penampilan Hades yang sangat <i>rock n roll</i> (kata Grover “<i>Look like</i> <i>Mick Jagger things</i>”).
<p>Penampilan Logan Lerman pun nampak kurang impresif sebagai anak seorang dewa, lebih-lebih dia memerankan tokoh sentral cerita. Alexandra Daddario juga terkesan kurang garang untuk memerankan tokoh gadis petarung. Penampilan Pierce Brosnan sebagai Mr. Brunner / Chiron dan Uma Thurman sebagai Medusa pun nampaknya tidak terlalu signifikan.
<p>Chris Colombus, sang sutradara nampaknya masih menggunakan formula yang sama dengan dua film Harry Potter yang pernah dibesutnya. Banyak elemen yang membuat film ini sekilas terkesan mirip dengan Harry Potter. Seperti adanya tiga tokoh utama, dua lelaki dan seorang perempuan, yang mengingatkan kita pada Harry, Hermione dan Ron. Benda-benda sakti para dewa yang dimodernkan, seperti kasut terbang Hermes yang dalam film ini menjadi sepatu <i>kets</i> bersayap, yang sekilas mirip <i>golden snitch</i>.
<p>Sebagai hiburan, film ini cukup layak disaksikan. Secara visualpun, walaupun cukup standar untuk film semodel ini, cukup mengesankan. Sayangnya, akhir cerita dari film ini tidak memberi kita <i>clue</i> akan kemunculan sekuelnya. Sehingga masih muncul muncul pertanyaan apakah film ini akan berlanjut, seperti novelnya yang sudah sampai seri kelima? <i>Well, let’s see.</i> Semoga saja sekuelnya lebih impresif dari film pertama yang kesannya sangat biasa.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andreasnova.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andreasnova.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andreasnova.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andreasnova.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andreasnova.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andreasnova.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andreasnova.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andreasnova.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andreasnova.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andreasnova.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andreasnova.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andreasnova.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andreasnova.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andreasnova.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=36&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andreasnova.wordpress.com/2010/04/23/olympus-move-to-the-states/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab9a935406389d68680053e970015029?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nova</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>One Day Somebody&#8217;s Got To Say Enough!</title>
		<link>http://andreasnova.wordpress.com/2010/04/13/one-day-somebodys-got-to-say-enough/</link>
		<comments>http://andreasnova.wordpress.com/2010/04/13/one-day-somebodys-got-to-say-enough/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 13:23:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andreasnova.wordpress.com/2010/04/13/one-day-somebodys-got-to-say-enough/</guid>
		<description><![CDATA[One day somebody’s got to make a stand. One day somebody’s got to say enough! Film ini menceritakan tentang kisah Perseus, salah satu pahlawan dalam mitologi Yunani. Anak Zeus (Liam Neeson), Perseus (Sam Worthington) melakukan perjalanan menuju underworld untuk menghentikan rencana Hades (Ralph Fiennes) untuk menebarkan ketakutan ke dunia maupun Olympus. Dengan plot cerita yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=35&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>One day somebody’s got to make a stand. One day somebody’s got to say enough!</i>
<p>Film ini menceritakan tentang kisah Perseus, salah satu pahlawan dalam mitologi Yunani. Anak Zeus (Liam Neeson), Perseus (Sam Worthington) melakukan perjalanan menuju <i>underworld</i> untuk menghentikan rencana Hades (Ralph Fiennes) untuk menebarkan ketakutan ke dunia maupun Olympus.
<p>Dengan plot cerita yang berbeda, baik dengan versi aslinya yang diproduksi pada tahun 1981 ataupun dengan kisah mitologinya, film ini diharapkan mengulang kesuksesan <b><i>Clash of The Titans</i></b> versi klasik yang sangat laris pada jamannya. <i>Well</i>, mitologi Yunani nampaknya memiliki daya tarik tersendiri bagi para sineas. Namun, jika anda pernah menyaksikan versi klasiknya, ataupun mengenal kisah Perseus dalam mitologi Yunani anda akan merasa sangat kecewa. Dibandingkan dengan versi aslinya yang hampir separuhnya setia pada kisah dalam mitologi Yunani, menyaksikan <b><i>Clash of The Titans</i></b>. Nampak seperti kisah dongeng yang sangat klise. Kebencian yang tertanam di benak Perseus pada para dewa (yang menjadi alas an perjalanan Perseus) terlihat bias. Kisahnya terasa kosong, hanya terfokus pada adegan pertempuran yang (seperti stereotip <i>Hollywood</i>) didramatisir sedemikian rupa untuk meninggalkan kesan, namun sayangnya gagal. Alur kisahnya nampak terburu-buru, mengejar satu <i>action sequence</i> ke <i>action sequence</i> selanjutnya.
<p>Dengan efek visual yang sangat baik pada hampir semua adegannya, Louis Letterier mengemas <b><i>Clash of The Titans</i></b> menjadi sedikit lebih nyata dari versi aslinya. Sayangnya hanya Medusa, mahluk dalam mitologi Yunani terlihat cukup keren dalam petualangan klasik Perseus ini. Visualisasi Hades, sang penguasa underworld pun terkesan sangat <i>dark and evil</i>, dengan asap hitam dan percikan api pada setiap kemunculannya. <i>Well</i>, setidaknya lebih baik dari Zeus yang berkostum sangat <i>bling-bling</i> yang membuatnya mirip raja disko. Mahluk lain seperti Scorpion dan Kraken, hamper tidak menimbulkan impresi pada saya, lebih-lebih <i>Kraken</i> yang mirip <i>Godzilla</i> bertentakel.
<p>Akting Sam Worthington setidaknya sedikit menyelamatkan film ini. Ia mampu memerankan sosok setengah dewa yang mengalami kegalauan dalam hatinya. Setidaknya hanya ia sosok manusia (setengah dewa) yang punya peran paling dominan dalam film ini. Peran Io (Gemma Arterton) yang seharusnya bisa lebih menonjol, tertelan oleh aktor aktor animasi seperti Scorpion, Medusa dan Kraken.
<p><i>Well, if one day somebody’s got to make a stand and one day somebody’s got to say enough! I’ll say enough! This movie’s not good enough! At least for me</i></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andreasnova.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andreasnova.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andreasnova.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andreasnova.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andreasnova.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andreasnova.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andreasnova.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andreasnova.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andreasnova.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andreasnova.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andreasnova.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andreasnova.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andreasnova.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andreasnova.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=35&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andreasnova.wordpress.com/2010/04/13/one-day-somebodys-got-to-say-enough/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab9a935406389d68680053e970015029?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nova</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Have you any idea why Burton made this movie??</title>
		<link>http://andreasnova.wordpress.com/2010/03/23/have-you-any-idea-why-burton-made-this-movie/</link>
		<comments>http://andreasnova.wordpress.com/2010/03/23/have-you-any-idea-why-burton-made-this-movie/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 13:20:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andreasnova.wordpress.com/2010/03/23/have-you-any-idea-why-burton-made-this-movie/</guid>
		<description><![CDATA[Alice in Wonderland, sebuah kisah klasik penuh imajinasi karya Lewis Carroll difilmkan oleh sutradara eksentrik bervisi unik (dan merupakan salah satu favorit saya) Tim burton, sudah cukup memberi alasan untuk menanti film ini. Harapan itu semakin tinggi ketika Johnny Depp kembali bekerjasama untuk yang ketujuh kalinya dengan sutradara ini, ditambah Ny Burton, Helena Bonham Carter [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=34&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b><i>Alice in Wonderland</i></b>, sebuah kisah klasik penuh imajinasi karya Lewis Carroll difilmkan oleh sutradara eksentrik bervisi unik (dan merupakan salah satu favorit saya) Tim burton, sudah cukup memberi alasan untuk menanti film ini. Harapan itu semakin tinggi ketika Johnny Depp kembali bekerjasama untuk yang ketujuh kalinya dengan sutradara ini, ditambah Ny Burton, Helena Bonham Carter yang selalu tampil maksimal dalam kelima film Burton sebelumnya. Namun, ekspektasi berlebih itu bisa jatuh ketika menonton film ini.
<p>Burton mengawali film ini dengan baik, Alice (Mia Wasikowska) yg telah berusia 19 tahun sedang dalam pesta pertunangan. Sebelum Alice menerima pertunangan, ia kabur mengejar seekor kelinci yang membawa jam (Michael Sheen) hingga sampai jatuh ke lubang dan sampai ke sebuah dunia yang belakangan diketahui bernama <i>Underland</i>. Alice kemudian bertemu dengan berbagai makhluk aneh mulai dari tikus bersenjata jarum, Dormouse (Barbara Windsor), si kembar bodoh Tweedledee dan Tweedledum (Matt Lucas), kucing tersenyum Chesire Cat (Stephen Fry), ulat biru bershisha, Absolem (Alan Rickman), hingga Mr. Freak, Mad Hatter (Johnny Depp).
<p>Burton mencampuradukkan cerita dalam kedua buku Lewis Carroll Alice’s Adventure in Wonderland dan Through the Looking-Glass yang sebetulnya tidak saling berhubungan ini, berusaha membuat kisah Alice in Wonderland menjadi lebih <i>fresh</i>. Sayangnya, alih-alih menjadi <i>fresh</i>, malah menjadi klise (di film ini Alice diminta makhluk-makhluk Underland memenuhi takdirnya melawan pemerintahan Red Queen yang kejam. <i>well, sounds like&#8230; eeerrr..Disney</i>?). Lalu kenapa Burton harus merubah Wonderland menjadi Underland? <i>Sounds soooo weird</i>…. Rasanya itu hal yang tidak perlu dilakukan, seperti membuang sebuah esensi penting dalam film ini. Aneh sekali . Ending film juga terkesan sangat gampang, aneh, dipaksakan dan terburu-buru, keseluruhan film ini sudah dapat ditebak dengan mudah dari awal. Ya, film ini memang diadaptasi dari serial anak-anak, tapi yang satu ini memang terasa <i>too plain, too simple, too flat….</i>
<p>Beruntung Alice in Wonderland dikemas dalam visualisasi yang menarik khas Tim Burton. Sedikit lega melihat masih ada sedikit sentuhan Burton melalui visualisasi yang berwarna-warni tapi tetap sekaligus memberikan kesan misterius, walaupun terasa tanggung kurang terasa <i>creepy</i>. Namun, Tim Burton, tidak diragukan lagi adalah salah satu sutradara dengan <i>great taste of art</i> dan <b><i>Alice in Wonderland</i></b> menjadi buktinya dan visualisasi yang menarik ini nampaknya diharapkan mampu menutupi lemahnya cerita <b><i>Alice in Wonderland</i></b>. <i>It’s just visually stunning!</i>Akan tetapi ada bagian dari film ini yang terasa terlalu berlebihan dalam hal CGI, animasi yang ditampilkan terkesan masih &#8216;setengah matang&#8217;. Beberapa karakter semacam Tweedledee dan Tweedledum nampak seperti Ping dan Jing dalam <b><i>Big Fish</i></b> bahkan karakter Mad Hatter nampak seperti Willy Wonka dalam <b><i>Charlie and The Chocolate Factory</i></b>. <i></i>
<p>Film ini juga terselamatkan oleh <i>casts</i> yang sangat keren. Aktor senior Johnny Depp yang memerankan The Mad Hatter memang jagonya peran-peran <i>freak </i>seperti ini dan sepertinya ia tidak kesulitan dengan perannya kali ini. Anne Hathaway tampil membawakan karakternya sebagai The White Queen yang sebenarnya agak <i>clumsy</i>, dengan tangan yang selalu melambai-lambai ke sana kemari, <i>but never mind</i>, mungkin memang harus begitu. Ia cukup baik membawakan perannya. Helena Bonham Carter tampil total di balik <i>make-up</i> si ratu <i>hydrochepalus</i>, Red Queen dengan kepala berbentuk hati yang super besar dan bibir <i>love</i> ala Jeng Kelin (memangnya Ny. Burton ini pernah tampil sebagai wanita cantik nan elegan dalam film-film Burton? Paling cantik mungkin saat memerankan Mrs. Buckett dalam <b><i>Charlie and the Chocolate Factory</i></b>, dan itu pun dia tampil kumuh). Teriakan, intonasi, dan gelagatnya sangat pas dengan peran yang harus ia mainkan. Seandainya saja peran Alice dimainkan oleh Mia Wasikowska dengan lebih baik, mungkin film ini akan menjadi lebih keren.
<p>Overall, film ini tetap layak untuk ditonton. Ceritanya standar namun dikemas dalam visualisasi yang indah dan sedap dipandang mata. Bagi yang tidak punya harapan terlalu tinggi pada film ini pasti akan sangat terhibur. <i>In the end&#8230;it&#8217;s NOT A BAD MOVIE at all, it&#8217;s surely a good movie for family, but definitely not what I&#8217;d expected from Tim Burton.</i></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andreasnova.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andreasnova.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andreasnova.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andreasnova.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andreasnova.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andreasnova.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andreasnova.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andreasnova.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andreasnova.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andreasnova.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andreasnova.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andreasnova.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andreasnova.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andreasnova.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=34&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andreasnova.wordpress.com/2010/03/23/have-you-any-idea-why-burton-made-this-movie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab9a935406389d68680053e970015029?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nova</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saya dan Bunda</title>
		<link>http://andreasnova.wordpress.com/2009/08/24/saya-dan-bunda/</link>
		<comments>http://andreasnova.wordpress.com/2009/08/24/saya-dan-bunda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 20:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nova</dc:creator>
				<category><![CDATA[A Tale of a Duck]]></category>
		<category><![CDATA[Junk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andreasnova.wordpress.com/2009/08/24/saya-dan-bunda/</guid>
		<description><![CDATA[Kasih ibu kepada beta Tak terhingga sepanjang masa Hanya memberi, tak harap kembali Bagai sang surya menyinari dunia Kasih Ibu – SM Muchtar Sebuah lagu yang mengingatkan saya kepada ibu saya Suatu ketika, pernah adik kelas saya mengeluh “Mas, semalem aku ditelepon ibu, ditanya macem-macem gitu. Gak penting banget, mana teleponnya jam satu pagi gitu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=33&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><i>Kasih ibu kepada beta</i></p>
<p align="justify"><i>Tak terhingga sepanjang masa</i></p>
<p align="justify"><i>Hanya memberi, tak harap kembali</i></p>
<p align="justify"><i>Bagai sang surya menyinari dunia</i></p>
<p align="justify">Kasih Ibu – SM Muchtar</p>
<p align="justify">Sebuah lagu yang mengingatkan saya kepada ibu saya</p>
<p align="justify">Suatu ketika, pernah adik kelas saya mengeluh “Mas, <i>semalem</i> aku ditelepon ibu, ditanya <i>macem-macem</i> gitu. <i>Gak</i> penting <i>banget</i>, mana teleponnya jam satu pagi <i>gitu</i>, <i>kayak gak tau</i> itu waktunya orang <i>bubu’</i> aja. Insomnia sih Insomnia, tapi ya sendiri <i>aja gak</i> usah <i>ngajak-ajak</i>.” Saya tidak menjawab apapun. Walaupun sebenarnya ingin menjawab “ <i>Kalo</i> ibu kamu minta diantarkan ke rumah sakit dini hari tadi, apa kamu juga bakal menjawab ‘<i>entar aja</i> Mah, aku ngantuk. Ini saja baru mau mimpi’”. </p>
<p align="justify">Ya, memang. Saya merasa berhak protes atas keluhannya. Bukan karena saya salah satu pengidap penyakit <i>gak</i> bisa tidur <i>kalo</i> belum dini hari, tapi lebih karena respek saya terhadap sosok Ibunda yang begitu besar (tentu saja tanpa bermaksud mengecilkan peran ayah sebagai orangtua). Bagi saya sosok ibu adalah seseorang yang sangat amat penting sekali, sehingga jika seandainya Tuhan iseng-iseng menawarkan seribu wanita untuk menggantikan ibu saya, tanpa berpikir semilidetikpun jawabannya sudah jelas tidak.</p>
<p> <span id="more-33"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Memang ibu saya tidak begitu pandai memasak. Namun, itu bukan masalah, <i>toh</i> untungnya saya dilahirkan dengan dianugrahi indra pengecap yang hanya mengenal rasa enak dan enak sekali. Ibu juga bisa dibilang sangat memperhatikan bagian-bagian terkecil tubuh saya yang tidak pernah terperhatikan seperti rambut atau kuku yang sudah mulai panjang nggak beraturan (<i>kalo</i> boleh kasar, ini biasanya disebut kecerewetan seorang ibu). Ibu juga selalu mengingatkan saya untuk selalu mandi. Kadangkala sewaktu jauh dari rumah, saya merasa kehilangan teriakan “Va, mandi dulu!” atau “Potong rambut sana!”. Sumpah, saya lebih suka diingatkan ibu dari pada diingatkan oleh mas Bram, teman satu kontrakan di Jogja, biarpun sering mangkir dari pada menjalankan hal seperti mandi dan potong rambut dengan berbagai alasan tentunya. Banyak sekali hal-hal yang bisa dikeluhkan tentang ibu dan ketidaksempurnaannya, namun hal itu tidak pernah terpikir dan tidak pernah terucap. Saya mencintai ibu saya dengan semua ketidaksempurnaannya.</p>
<p align="justify">Saya bukan cuma sekali dua kali tidak sependapat dengan ibu. Namun sungguh, saya tidak pernah sampai berani memaki ibu biarpun hanya di dalam hati, sedongkol apapun perasaan saya saat itu. Padahal saya termasuk orang yang vulgar dalam mengekpresikan perasaan termasuk lewat cara memaki tersebut (<i>Well</i>, bagi saya memaki bukan hal yang tabu). Saya masih ingat betul ketelatenan ibu saya dalam mengajari membaca, sehingga saya bisa berbangga mengatakan, saya sudah bisa membaca sebelum masuk taman kanak-kanak. Ibu yang sampai melempar sandal saat saya dengan bandelnya menolak disuruh belajar saat mendekati ebtanas SD. Namun, karena peristiwa itulah saya bisa membanggakan nilai ebtanas SD yang 47,70 itu. Bahkan bisa dibilang karena ibu, saya bisa masuk sekolah menengah favorit di Klaten sejak SMP, SMA dan bahkan ibu pula yang memaksa saya terus kuliah walaupun saya sudah <i>ngeyel</i> mau rehat dulu satu tahun. Ibu memang hanya lulusan SMA, namun beliau ingin saya menuntut ilmu setinggi-tingginya. Bagi kebanyakan orang, jika dibandingkan dengan ibu-ibu yang lain, ibu saya memang tidak ada apa-apanya, tidak istimewa. Namun saya mencintainya dengan tulus.</p>
<p align="justify">Bisa jadi saya bukan apa-apa jika hidup tanpa ibu saya. Pernah suatu ketika, dengan mengingat ibu pula, saya bisa menasehati seorang teman (yang lebih tua dari saya) saat hubungannya dengan pacarnya tidak disetujui oleh ayahnya, “Asal ibu kamu udah setuju, sekeras apapun ayahmu pasti dibolehin kok.” Ibu saya juga secara tidak langsung mengajari sebuah prinsip yang menjadi pegangan hidup sejak beberapa tahun terakhir ini, bahwa hidup itu pilihan, dan saat kamu memutuskan untuk memilih, kamu harus siap dengan segala konsekuensinya. Membaca sebuah esai seorang sahabat yang berjudul ‘Indulgensia Bunda’ kemarin sore, saya jadi tersadar, fisik saya mungkin baru lahir tanggal 10 November 1987, namun jiwa dan kepribadian saya sudah terbentuk sejak 13 Februari 1966.</p>
<p align="justify">Bulan Agustus ini ada dua teman yang ibundanya dipanggil Tuhan. <i>Well</i>, yang harus terjadi memang harus terjadi. Setiap kali mendengar kabar duka tersebut saya merasa seolah-olah Tuhan berkata “Bisa jadi besok giliran Mama-mu yang Aku panggil.”. Memang, cepat atau lambat kehilangan itu adalah hal yang pasti akan terjadi. Namun, saya berharap dan terus berdoa supaya ibu tetap sehat dan diberi umur yang cukup sehingga masih sempat menyaksikan saya wisuda, masih sempat mengantar saya lamaran, masih sempat menimang cucunya dan masih banyak lagi momen-momen yang ingin saya bagi dengan ibu. Saya menyadari, sekalipun sisa waktu dalam hidup saya ini digadaikan, masih saja kurang untuk membalas jasa seorang ibu yang sangat amat besar dalam hidup saya.</p>
<p align="justify">Satu ibu bernama Valentina Sus Indriastuti sudah pasti menjadi orang teratas dalam daftar sosok yang harus disyukuri karena telah ada dalam hidup seorang Andreas Avelinus Nova Kharismawan. </p>
<p align="justify"><i>Mom, I love you. Deeply.</i></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andreasnova.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andreasnova.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andreasnova.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andreasnova.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andreasnova.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andreasnova.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andreasnova.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andreasnova.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andreasnova.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andreasnova.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andreasnova.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andreasnova.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andreasnova.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andreasnova.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=33&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andreasnova.wordpress.com/2009/08/24/saya-dan-bunda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab9a935406389d68680053e970015029?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nova</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Analisis Tindakan Tokoh Baldassare Embriarco dalam Roman Le Periple De Baldassare (2)</title>
		<link>http://andreasnova.wordpress.com/2009/07/27/analisis-tindakan-tokoh-baldassare-embriarco-dalam-roman-le-periple-de-baldassare-2/</link>
		<comments>http://andreasnova.wordpress.com/2009/07/27/analisis-tindakan-tokoh-baldassare-embriarco-dalam-roman-le-periple-de-baldassare-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 03:11:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nova</dc:creator>
				<category><![CDATA[When a duck become &#039;akademisi&#039;]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andreasnova.wordpress.com/2009/07/27/analisis-tindakan-tokoh-baldassare-embriarco-dalam-roman-le-periple-de-baldassare-2/</guid>
		<description><![CDATA[Landasan Teori Seperti yang telah dikemukakan dalam permasalahan penelitian, masalah yang akan diteliti adalah tindakan tokoh Baldassare Embriarco, berikut pengaruh tindakan tersebut terhadap interaksi Baldassare dengan tokoh-tokoh lain. Untuk mencari tindakan dan pengaruh tindakan tersebut pada interaksi Baldassare dengan tokoh-tokoh lain, diperlukan analisis mengenai unsur-unsur intrinsik roman Le Periple de Baldassare terutama penokohan, setting dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=32&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><b>Landasan Teori</b></p>
<p align="justify">Seperti yang telah dikemukakan dalam permasalahan penelitian, masalah yang akan diteliti adalah tindakan tokoh Baldassare Embriarco, berikut pengaruh tindakan tersebut terhadap interaksi Baldassare dengan tokoh-tokoh lain. Untuk mencari tindakan dan pengaruh tindakan tersebut pada interaksi Baldassare dengan tokoh-tokoh lain, diperlukan analisis mengenai unsur-unsur intrinsik roman <i>Le Periple de Baldassare </i>terutama penokohan, setting dan plot. Dengan demikian, teori yang relevan untuk digunakan dalam penelitian ini adalah teori strukturalisme untuk mencari unsur-unsur intrinsik karya sastra dan teori psikologi sosial khususnya teori interaksi simbolik. </p>
<p> <span id="more-32"></span>
<p align="justify">Analisis struktural merupakan prioritas pertama sebelum yang lain – lain. Tanpanya, kebulatan makna intrinsik yang hanya dapat digali dari karya tidak akan terungkap. Oleh karena itu, teori struktural dapat digunakan dalam usaha untuk memaparkan dengan lebih cermat, teliti, dan mendalam keterkaitan semua aspek karya sastra yang secara bersama – sama menghasilkan makna yang menyeluruh (Teeuw, 1983). Teori ini digunakan sebagai metode awal untuk mengetahui unsur – unsur intrinsik dari obyek (roman) yang diteliti secara lebih mendalam. Penggunaan analisis struktural diharapkan dapat mempermudah analisis selanjutnya dengan teori sosiologi sastra.</p>
<p align="justify"><b>Analisis Struktural</b></p>
<p align="justify">Karya sastra merupakan sebuah struktur. Struktur disini dalam arti behwa karya sastra merupakan susunan unsur-unsur yang bersistem, yang antara unsur-unsurnya terjadi hubungan resiprok, saling menentukan (Pradopo, 2005).</p>
<p align="justify">Karya sastra merupakan sebuah struktur yang kompleks. Karena itu untuk memahaminya, karya sastra harus dianalisis (Hill, 1966). </p>
<p align="justify">Suatu struktur memiliki tiga sifat pokok. Pertama, totalitas atau keseluruhan, yakni bahwa unsur-unsur tersebut merupakan keseluruhan yang bulat. terdapat unsur–unsur yang saling berkoherensi dan membentuk seperangkat kaidah intrinsik yang menentukan hakikat unsur–unsur tersebut. Dengan istilah lain, unsur–unsur struktur tidak berdiri sendiri dalam menemukan makna. Kedua, struktur berisi gagasan transformasi, struktur bukanlah sesuatu yang statis namun sesuatu yang dinamis. Struktur mampu melakukan prosedur-prosedur transformasional karena pengertian struktur tidak hanya terbatas pada tersusun (<i>structure</i>), namun sekaligus mencakup pengertian proses menyusun (<i>structurant</i>). Ketiga, struktur memiliki keteraturan yang mandiri atau otoregulasi, transformasi yang terjadi pada sebuah struktur karya sastra tidak menjalar ke luar teks (Piaget <i>via</i> Hawkes, 1978). </p>
<p align="justify">Ketiga sifat itulah yang secara mendasar memberikan pengertian tentang teori struktural sebagai sebuah disiplin yang memandang karya sastra sebagai suatu struktur yang terdiri atas beberapa unsur yang saling berkaitan dan membentuk satu makna bulat yang utuh. Sedangkan metode karya sastra struktural bertujuan untuk membedah dan memaparkan secermat serta semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur karya sastra yang secara bersama–sama menghasilkan makna menyeluruh (Teeuw, 1983).</p>
<p align="justify"><b></b></p>
<p align="justify"><b></b></p>
<p align="justify"><b>Psikologi Sosial</b></p>
<p align="justify">Psikologi sosial mempelajari bagaimana orang menghayati, berpikir dan merasakan tentang dunia sosial mereka dan bagaimana mereka saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Psikologi sosial menekankan dua hal. Pertama adalah kekuatan suatu situasi untuk menentukan perilaku seseorang. Hal kedua adalah kepentingan intrepretasi terhadap situasi yang dimiliki seseorang dalam menentukan respons terhadapnya. (Atkinson, Atkinson, Smith &amp; Bem, 1993)</p>
<p align="justify"><b></b></p>
<p align="justify"><b>Interaksi Simbolik</b></p>
<p align="justify">Teori Interaksi Simbolik dikemukakan oleh George Herbert Mead, Charles Horton Cooley, Herbert Blumer dan Erving Goffman (Ratna, 2008: 187). Interaksi Simbolik menurut Ritzer (2004: 266) dikembangkan atas dasar teori pragmatic dengan ciri-ciri sebagai berikut: </p>
<p align="justify">1. Realitas pada dasarnya tidak berada di luar dunia nyata, realitas diciptakan secara kreatif pada saat bertindak.</p>
<p align="justify">2. Manusia mendasarkan pengetahuan mengenai dunia nyata pada apa yang telah terbukti berguna.</p>
<p align="justify">Secara definitif unit terpenting dalam interaksi simbolik khususnya dalam paradigm Meadean adalah interaksi, tindakan. </p>
<p align="justify">Blumer (1969) menyatakan ada tiga premis mayor dalam interaksi simbolis: </p>
<ol>
<li>
<div align="justify">Manusia berbuat terhadap sesuatu hal didasarkan pada pemaknaan hal tersebut baginya. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Arti –makna merupakan produk dari interaksi sosial</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Arti-makna tersebut mengalami modifikasi melalui intrepretasi orang-orang yang terkait dengan obyek yang bersangkutan.</div>
</li>
</ol>
<p align="justify">Blumer juga menyatakan bahwa orang berinteraksi satu sama lain dengan mengintrepretasikan sikap dan tindakan orang lain bukan dengan bereaksi terhadapan tindakan orang lain. “Respon” seseorang tidak dilakukan secara langsung satu sama lain, namun melalui pemaknaan atas aksi orang lain. Interaksi manusia dimediasi dengan penggunaan tanda (symbol / sign) dan petanda (signification) (Blumer, 1969) </p>
<p align="justify">Mead mengindentifikasi empat tahap dasar yang terkait satu-sama lain dalam setiap perbuatan. (Schmitt dan Schmitt, 1996 via Ritzer dan Goodman, 2004) :</p>
<ol>
<li>
<div align="justify">Impuls yang melibatkan “stimulasi indrawi langsung”</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Persepsi yang merupakan reaksi terhadap stimulasi tersebut. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Manipulasi yang merupakan tindakan pra pengambilan keputusan untuk berbuat. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Konsumasi yang merupakan tahap akhir perbuatan. (Ritzer dan Goodman, 2004) </div>
</li>
</ol>
<p align="justify">Implikasi metodologis Interaksi Simbolik dalam sastra adalah dimanfaatkannya pemahaman dengan memberikan intensitas pada peranan tokoh-tokoh, bukan status. Dalam penelitian tradisional biasanya dilakukan deskripsi secara detail mengenai kondisi tokoh-tokoh. Sebaliknya dalam analisis kontemporer, dengan menampilkan fungsi antar hubungan, maka masalah yang memperoleh perhatian adalah struktur peranan, keterlibatan tokoh-tokoh sebagai akibat interaksinya dengan tokoh-tokoh lain, kelompok dan masyarakat secara keseluruhan. Dalam ilmu sastra, bukan semata-mata tokoh-tokoh melainkan juga keseluruhan elemen cerita, termasuk benda-benda, pemandangan alam, peristiwa-peristiwa dapat diberikan arti yang berbeda atas dasar antarhubungannya (Ratna, 2008)</p>
<p align="justify"><b>Metodologi Penelitian</b></p>
<p align="justify">Penelitian ini menggunakan metode analisis isi dan pendekatan psikologis. Analisis isi adalah sebuah metodologi dalam ilmu sosial untuk mempelajari isi komunikasi dalam sebuah media. Umumnya digunakan oleh peneliti ilmu sosial untuk menganalisa transkrip atau naskah. </p>
<p align="justify">Ole Holsti (1969), menawarkan definisi analisis isi sebagai <i>“Teknik untuk menarik kesimpulan secara objektif dan secara sistematik mengidentifikasi karakteristik pesan secara spesifik”</i></p>
<p align="justify">Ratna (2008), mengatakan bahwa isi dalam metode analisis isi terdiri atas dua macam, yaitu isi laten dan isi komunikasi. Isi laten adalah isi yang terkandung dalam media yang dimaksudkan oleh pengarang, sedangkan isi komunikasi adalah pesan yang terkandung sebagai akibat dari komunikasi yang terwujud dalam hubungan naskah dengan pembaca. Analisis terhadap isi laten akan menghasilkan arti, sedangkan analisis terhadap isi komunikasi akan menghasilkan makna. </p>
<p align="justify">Pendekatan psikologis secara definitif digunakan untuk menganalisis aspek-aspek kejiwaan dalam karya sastra (Ratna, 2004: 342). Pada dasarnya psikologi sastra cenderung menganalisis aspek kejiwaan tokoh-tokoh fiksi dalam karya sastra. Dalam analisisnya pada umumnya yang menjadi tujuan adalah tokoh utama, tokoh kedua, tokoh ketiga dan seterusnya. Studi psikologi inilah yang berkaitan dengan resepsi sastra dan sosiologi sastra sebagai psikologi sosial (Ratna, 2004: 344) </p>
<p align="justify">Penelitian akan dibagi menjadi beberapa tahap : </p>
<p align="justify">1. Tahap Pembacaan </p>
<p align="justify">Pada tahap ini dilakukan dua macam pembacaan yaitu pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik.</p>
<p align="justify">Pembacaan heuristik merupakan tahap pembacaan berdasarkan struktur bahasanya untuk mempermudah pemahaman makna, proses ini diikuti dengan pembuatan sinopsis cerita (Pradopo, 2008: 135). Tahap ini dilakukan dengan cara membaca roman <i>Le Periple de Baldassare </i>untuk memahami isi cerita dan pemikiran pengarang yang terkandung di dalam roman tersebut. Pembacaan hermeneutik yang merupakan pembacaan karya sastra untuk menginterpretasikan makna yang terkandung didalamnya (Ferguson, Wright dan Parker, 1988). Dalam tahap ini dilakukan pembacaan retroaktif roman <i>Le Periple de Baldassare </i>untuk menginterpretasikan makna dalam cerita. Setelah melalui tahap pembacaan, proses selanjutnya yang akan ditempuh adalah tahap pemilihan data. </p>
<p align="justify">2. Tahap Pemilihan Data </p>
<p align="justify">Pada tahap ini diadakan perampingan data dengan memilih data yang dipandang penting dan menyederhanakannya, Data – data yang akan dipilih merupakan data – data deskriptif yang berkaitan dengan kondisi sosiologis dalam <i>Le Periple de Baldhassare</i>. Setelah terkumpul data – data diolah pada tahap analisis.</p>
<p align="justify">3. Tahap Pengolahan Data </p>
<p align="justify">Pada tahap ini data – data yang diperoleh dari tahap sebelumnya akan diolah melalui kategori – kategori yang dapat mendukung pengungkapan permasalahan penelitian yang akan difokuskan pada :</p>
<p align="justify">a. Penokohan </p>
<p align="justify">Analisis pada penokohan tidak mungkin dilakukan tanpa menghubungkannya dengan unsur intrinsik lainnya (Ratna, 2008)</p>
<p align="justify">b. Latar </p>
<p align="justify">Latar merupakan keadaan dan lingkungan dimana cerita terjadi termasuk konteks cerita tersebut. Elemen-elemen latar antara lain: budaya, periode historis, geografi dan waktu (Rozelle, 2005) </p>
<p align="justify">c. Plot </p>
<p align="justify">Plot merupakan unsur fiksi yang penting, bahkan tak sedikit menganggapnya sebagai yang terpenting diantara unsur-unsur yang lain (Nurgiyantoro, 1995). Shklovsky (Scholes, 1977) mengemukakan bahwa sudut pandang, gaya bahasa dan plot merupakan unsur keberhasilan karya sastra. Artinya keberhasilan karya sastra tidak dihasilkan oleh pentingnya suatu kejadian atau tokoh, tetapi bagaimana sudut pandang, gaya bahasa dan plot dioperasikan (Ratna, 2008) </p>
<p align="justify">Kategori – kategori di atas dimasukkan dalam penelitian ini sebab ketiganya memiliki peran dalam pengenalan lebih jauh pada tokoh-tokoh dalam <i>Le Periple de Baldassare</i> sebagai pengantar menuju penelitian tentang factor-faktor yang mempengaruhi tindakan tokoh Baldassare pada khususnya. </p>
<p align="justify">Sedangkan pada aspek psikologi sastra, kategorisasi akan difokuskan pada : </p>
<p align="justify">a. Faktor kognitif personal </p>
<p align="justify">Kategori ini disusun sebagai bantuan untuk meneliti kondisi yang mempengaruhi persepsi dan intepretasi tokoh Baldassare sebagai pengambil tindakan dalam <i>Le Periple de Baldassare.</i></p>
<p align="justify">b. Interaksi antar individu </p>
<p align="justify">Kategori ini dibuat untuk membuktikan adanya pengaruh tindakan tokoh Baldassare terhadap interaksinya dengan tokoh lain. </p>
<p align="justify">Kategorisasi terhadap aspek–aspek tersebut dilakukan untuk membantu analisis kondisi psikologi tokoh Baldassare pada khususnya dan tokoh-tokoh lain dalam tahap analisis.</p>
<p align="justify">4. Tahap Analisis Data </p>
<p align="justify">Pada tahap ini akan dibahas aspek – aspek yang berkaitan dengan dinamika psikologis yang dialami tokoh Baldassare dalam <i>Le Periple de Baldassare</i>, saat melakukan tindakan, kemudian akan dikaitkan dengan teori psikologi </p>
<p align="justify">5. Tahap Kesimpulan </p>
<p align="justify">Pada tahap ini disusun kesimpulan dan penyajian hasil penelitian.</p>
<p align="justify"><b></b></p>
<p align="justify"><b>Tinjauan Pustaka</b></p>
<p align="justify"><b></b>Sejauh pengamatan penulis, penelitian yang menggunakan roman <i>Le Periple de Baldassare</i> karya Amin Maalouf di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya UGM belum pernah dilakukan. Sementara di internet sekalipun pembahasan mengenai roman ini sulit ditemukan, sebagian besar sumber di internet lebih banyak didominasi oleh resensi dari roman ini. </p>
<p align="justify"><b></b></p>
<p align="justify"><b>Sistematika Penyajian</b></p>
<p align="justify">Pembahasan dalam penelitian ini disusun dengan sistematika penyajian sebagai berikut : </p>
<p align="justify"><b>Bab I</b> : berisi pendahuluan yang mencakup latar belakang masalah, permasalahan, tujuan penelitian, landasan teori, metodologi penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penyajian. </p>
<p align="justify"><b>Bab II</b> : berisi penjelasan dan pembahasan mengenai topik permasalahan pertama. </p>
<p align="justify"><b>Bab III</b> : berisi penjelasan dan pembahasan mengenai topik permasalahan kedua. </p>
<p align="justify"><b>Bab IV </b>:<b> </b>berisi kesimpulan yang merupakan intisari hasil penelitian yang dianalisis pada Bab II dan Bab III. </p>
<p align="justify"><b>Daftar Pustaka </b>:<b> </b>berisi daftar sumber – sumber informasi yang menunjang penelitian. </p>
<p align="justify"><b>Extrait</b> : berisi ringkasan penelitian dalam bahasa Prancis. </p>
<p align="justify"><b>Lampiran</b> : yang berisi data – data pendukung dan tabel – tabel data yang digunakan sebagai metode penelitian</p>
<p><b></b></p>
<p><b>Daftar Pustaka</b></p>
<p>Abrams, M. H. 1981. <i>A Glossary of Literary Terms. </i>New York: Holt, Rinehart and Winston.</p>
<p>Anonimous. Biographie. http://www.aminmaalouf.com/biographie/a.htm. 17 Desember 2008</p>
<p>Atkinson, R., Atkinson, R. C., Smith, E. E., &amp; Bem, D. J. 1993. <i>Introduction to psychology</i> (11th ed.). San Diego: Harcourt Brace Jovanovich </p>
<p>Blumer, Herbert (1969). <i>Symbolic Interactionism: Perspective and Method</i>. Berkeley: University of California Press </p>
<p>Ferguson, Sinclair B; David F Wright; J. I. (James Innell) Packer 1988. <i>New Dictionary of Theology</i>. Illinois: InterVarsity Press.</p>
<p>Fiske, S. T., &amp; Taylor, S. E. 1991. <i>Social cognition (2nd ed.)</i>. New York: McGraw-Hill. </p>
<p>Foster, E.M. 1970. <i>Aspect of Novel</i>. Hardmonswort: Penguin Book</p>
<p>Hawkes, Terrence. 1978. <i>Structuralism and Literature</i>. London: Methuen &amp; Co. Ltd</p>
<p>Hill, Knox C. 1966. <i>Interpreting Literature</i> Chicago: The University Press of Chicago</p>
<p>Holsti, Ole R. 1969. <i>Content Analysis for the Social Sciences and Humanities.</i> Reading: Addison-Wesley</p>
<p>Kenny, William. 1966. <i>How to Analyze Fiction.</i> New York: Monarch Press</p>
<p>Mead, George H. 1962. <i>Mind. Self. and Society: From the Standpoind to Social Behavioris.</i>: Chicago: University of Chicago Press</p>
<p>Nurgiyantoro, Burhan. 1995. <i>Teori Pengkajian Fiksi</i>. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press</p>
<p>Pradopo, Prof. Dr. Rachmat Djoko. 2008. <i>Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan Penerapannya</i>. Jakarta: Pustaka Jaya</p>
<p>Pradopo, Rachmat Djoko. 2005. <i>Analisis Puisi</i>. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press</p>
<p>Teeuw, A. 1983. <i>Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra</i>. Jakarta: Pustaka Jaya</p>
<p>Ratna. Prof. Dr. Nyoman Kutha. 2004. <i>Teori. </i><i>Metode. dan Teknik Penelitian Sastra</i>. Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Ratna. Prof. Dr. Nyoman Kutha. 2008. <i>Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta</i>. Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2004. <i>Sociological Theory</i>. New York: McGraw-Hill</p>
<p>Rozelle. Ron. 2005. <i>Write Great Fiction: Description &amp; Setting</i>. Oklahoma: Writer&#8217;s Digest Book</p>
<p>Sansom, Ian. <i>Balthasar’s Odyssey: The Guardian</i>. October 12. 2002</p>
<p>Scholes. Robert 1977. <i>Structuralism in Literature: an Introduction</i>. London : Yale University Press</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andreasnova.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andreasnova.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andreasnova.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andreasnova.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andreasnova.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andreasnova.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andreasnova.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andreasnova.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andreasnova.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andreasnova.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andreasnova.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andreasnova.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andreasnova.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andreasnova.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=32&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andreasnova.wordpress.com/2009/07/27/analisis-tindakan-tokoh-baldassare-embriarco-dalam-roman-le-periple-de-baldassare-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab9a935406389d68680053e970015029?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nova</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Analisis Tindakan Tokoh Baldassare Embriarco dalam Roman Le Periple De Baldassare (1)</title>
		<link>http://andreasnova.wordpress.com/2009/07/27/analisis-tindakan-tokoh-baldassare-embriarco-dalam-roman-le-periple-de-baldassare-1/</link>
		<comments>http://andreasnova.wordpress.com/2009/07/27/analisis-tindakan-tokoh-baldassare-embriarco-dalam-roman-le-periple-de-baldassare-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 03:07:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nova</dc:creator>
				<category><![CDATA[When a duck become &#039;akademisi&#039;]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andreasnova.wordpress.com/2009/07/27/analisis-tindakan-tokoh-baldassare-embriarco-dalam-roman-le-periple-de-baldassare-1/</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Latar Belakang Karya Membaca sebuah karya fiksi, novel atau cerpen, pada umumnya yang pertama-tama menarik perhatian pembaca adalah ceritanya. Faktor cerita inilah yang terutama mempengaruhi sikap dan selera pembaca terhadap buku yang sudah, sedang atau akan dibacanya. Berdasarkan cerita itu pulalah biasanya orang akan memandang dan menilai karya fiksi tersebut. Aspek cerita (story) dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=31&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><b>PENDAHULUAN</b></p>
<p align="justify"><b></b></p>
<p align="justify"><b>Latar Belakang Karya</b></p>
<p align="justify">Membaca sebuah karya fiksi, novel atau cerpen, pada umumnya yang pertama-tama menarik perhatian pembaca adalah ceritanya. Faktor cerita inilah yang terutama mempengaruhi sikap dan selera pembaca terhadap buku yang sudah, sedang atau akan dibacanya. Berdasarkan cerita itu pulalah biasanya orang akan memandang dan menilai karya fiksi tersebut. </p>
<p align="justify">Aspek cerita (story) dalam sebuah karya fiksi merupakan hal yang sangat esensial. Ia memiliki peran sentral dalam sebuah karya fiksi. Dari awal hingga akhir karya tersebut yang ditemukan adalah cerita. Cerita, dengan demikian berkaitan erat dengan unsur-unsur pembangun fiksi yang lain. Kelancaran cerita akan dibangun berdasarkan kepaduan unsur-unsur pembangun cerita tersebut. Sebaliknya, tujuan kelancaran cerita bersifat mengikat “kebebasan” unsure pembangun tersebut (Nurgiyantoro, 1995). Forster (1970) menegaskan bahwa cerita merupakan hal yang fundamental dalam sebuah fiksi. Tanpanya, eksistensi sebuah fiksi tidak mungkin terwujud karena cerita sendiri adalah inti sebuah karya fiksi dimana karya fiksi pada hakikatnya adalah cerita rekaan. Forster (1970), Abrams (1981) dan Kenny (1966) mengartikan cerita sebagai urutan peristiwa secara kronologis yang disajikan dalam sebuah karya fiksi. Kaitan waktu dan peristiwa haruslah jelas, dan harus bersebab-akibat sehingga jelas urutan kronologisnya. </p>
<p> <span id="more-31"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Plot dan cerita adalah dua unsur karya fiksi yang sangat erat berkaitan. Baik plot maupun cerita sama-sama mendasarkan diri pada rangkaian peristiwa yang disajikan dalam karya fiksi. Namun, cerita sekedar mempertanyakan apa atau bagaimana kelanjutan sebuah peristiwa dalam karya fiksi, sedang plot lebih menekankan pada permasalahan pada hubungan kausalitas, kelogisan hubungan antar peristiwa yang disajikan. Kedua hal ini yang menurut Forster (1970) merupakan factor fundamental yang mebedakan di antara keduanya. </p>
<p align="justify">Tuntutan plot dalam karya sastra lebih dari sekedar cerita. Plot, seperti yang dikatakan Forster (1970) merupakan sesuatu yang lebih tinggi dan kompleks daripada cerita. Plot menuntut adanya kejelasan antar peristiwa yang dikisahkan, bukan sekedar urutan temporal saja. Hal ini menyebabkan plot menjadi unsur fiksi yang penting, bahkan tak sedikit yang menganggapnya sebagai yang terpenting di antara berbagai unsur fiksi yang lain. Abrams (1981) mengemukakan bahwa plot adalah struktur peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sebuah karya fiksi. peristiwa-peristiwa tersebut dimanifestasikan ke dalam perbuatan, tindakan, tingkah laku dan sikap tokoh-tokoh dalam karya fiksi tersebut. Plot merupakan cerminan, atau bahkan perjalanan tindakan tokoh-tokoh dalam karya fiksi tersebut dalam bertindak, berpikir, merasa, dan bersikap dalam berbagai peristiwa atau masalah yang dihadapi dalam karya fiksi tersebut. Bahkan pada umumnya peristiwa-peristiwa yang disajikan dalam karya fiksi tersebut merupakan rangkaian tindakan para tokoh dalam karya fiksi, baik yang bersifat verbal maupun non verbal, baik yang bersifat fisik maupun non fisik.</p>
<p align="justify">Tindakan manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Namun faktor yang paling berperan dalam proses pengambilan tindakan adalah faktor psikologis. Mead mengindentifikasi empat tahap dasar yang terkait satu-sama lain dalam setiap perbuatan. (Schmitt dan Schmitt, 1996 via Ritzer dan Goodman, 2004) :</p>
<ol>
<li>
<div align="justify">Impuls yang melibatkan “stimulasi indrawi langsung”</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Persepsi yang merupakan reaksi terhadap stimulasi tersebut. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Manipulasi yang merupakan tindakan pra pengambilan keputusan untuk berbuat. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Konsumasi yang merupakan tahap akhir perbuatan. (Ritzer dan Goodman, 2004) </div>
</li>
</ol>
<p align="justify">Sebuah tindakan membutuhkan impuls. Impuls ini dapat disebabkan oleh adanya peristiwa atau tindakan tokoh lain, sehingga tindakan satu tokoh akan berpengaruh pada tokoh yang lain, saling berkesinambungan membentuk adanya rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan kausalitas yang logis dan membentuk plot dalam sebuah karya sastra. Seperti halnya yang terjadi dalam roman <i>Le Periplee de Badhassare, </i>karya Amin Maalouf yang menceritakan kisah tentang Baldassare Embriarco, seorang pedagang buku dan barang antik dari Gibelet keturunan dari keluarga Embriarco dari Genoa. Bersama dengan dua anak saudara perempuannya, Jaber dan Habib serta Marta seorang janda cantik yang merupakan cinta masa lalu Baldassare. Mereka menelusuri jejak buku karangan Abu-Maher al-Mazandarani yang berjudul “Nama yang Tersembunyi”, yang mungkin mengandung nama Tuhan yang keseratus, yang dipercaya dapat menyelamatkan umat manusia dari tahun dajjal seperti bahtera yang menyelamatkan Nuh dari bencana banjir besar. Agama Islam dikenal adanya 99 nama Allah yang lebih dikenal dengan <i>asmaul husna</i>. Baldassare dan rombongannya berkelana untuk mengetahui nama Tuhan yang keseratus, yang mungkin hilang dari <i>Al-Quran</i>, untuk memastikan keselamatan dari tahun dajjal. Baldassare sendiri adalah seorang Katholik yang memandang agama secara skeptis, dan mengamatinya dengan logika pengetahuan modern. Baldassare mencari buku itu, menemukannya dan kehilangan buku tersebut dua kali. Ia dan rombongannya menyusuri jejak buku itu hampir mengelilingi Benua Eropa, dari Gibelet, Tarsus, Konstantinopel, Smyrna, Lisbon, dan terjebak di kebakaran hebat di London tahun 1666. Konflik demi konflik yang dihadapinya sepanjang perjalanannya membuat Baldassare mengambil sikap dan tindakan untuk menyelesaikan setiap konflik yang dihadapinya. </p>
<p align="justify">Latar belakang, pengalaman, pemikiran dan perasaan tokoh Baldassare mempengaruhi pengambilan keputusan, sikap dan tindakannya dalam mengatasi konflik dituliskan secara cukup detail oleh Amin Maalouf dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga sangat jelas sekali bagaimana perasaan dan cara berpikir tokoh Baldassare dalam mengambil keputusan, yang akan mempengaruhi kausalitas peristiwa-peristiwa yang ia alami.</p>
<p align="justify">Amin Maalouf sendiri adalah seorang jurnalis dan novelis berkebangsaan Lebanon, beliau lahir pada 25 Februari 1949 di Beirut. Bahasa ibunya adalah Bahasa Arab namun dia menulis dalam Bahasa Prancis. Beliau berasal dari keluarga Katholik Arab, beliau adalah anak ke-dua dari empat bersaudara. Pada saat berusia 22 tahun Maalouf bekerja di harian terkenal beirut, <i>An-Nahar </i>dan melakukan perjalanan ke India, Bangladesh, Ethiopia, Somalia, Kenya, Yemen, dan Algeria. Tahun 1977 saat terjadi perang saudara di Lebanon beliau pindah ke Paris, Prancis bersama istrinya Andree dan ke-tiga anaknya Ruchdi, Tarek dan Ziad (Anonimous, 2008).</p>
<p align="justify">Kebanyakan karya Maalouf memiliki bersetting sejarah dan seperti halnya Umberto Eco, Orhan Pamuk, dan Arturo Perez-Reverte, Maalouf mencampur fakta-fakta sejarah dengan fantasi dan ide-ide filosofisnya. Buku-buku Maalouf sebagian besar ber-<i>point of view</i> orang pertama tunggal, menawarkan benturan-benturan multikulturalisme di Timur Tengah, Asia kecil, Afrika dan daerah Mediterania.</p>
<p align="justify">Dikisahkan dalam karyanya <i>Leo l’African</i>, seorang <i>geographer</i> yang mengembara di Afrika dan daerah Mediterania pada abad ke-16 bernama Hassan Al-Wazzan, Ia mengembara dari Granada sampai Fez. Karyanya <i>Le Rocher de Tanios</i> mendapatkan penghargaan <i>Prix de Goncourt</i> <i>1993</i>., Maalouf mencampurkan fakta dan fiksi dalam sejarah manuskrip <i>Rubaiyaat</i> karangan Omar Khayyam seorang penyair besar Persia dalam karyanya <i>Samarcande</i> (Samsom, 2002)</p>
<p align="justify"><b>Permasalahan</b></p>
<p align="justify">Mengacu pada hal-hal yang terdapat pada latar belakang penelitian mengenai roman <i>Le Périple de Baldassare</i>, dapat dirumuskan permasalahan-permasalahan sebagai kerangka penelitian, yaitu :</p>
<p align="justify">- Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan dan keputusan tokoh Baldassare Embriarco dalam roman <i>Le Périple de Baldassare</i> ?</p>
<p align="justify">- Bagaimana tindakan tokoh Baldassare Embriarco tersebut mempengaruhi interaksinya dengan tokoh-tokoh lain dalam roman <i>Le Périple de Baldassare</i>?</p>
<p align="justify"><b></b></p>
<p align="justify"><b>Tujuan Penelitian</b></p>
<p align="justify">Di dalam penelitian ini ada dua tujuan yang hendak dicapai, yaitu tujuan teoritis dan tujuan praktis. Tujuan teoritis berusaha menerapkan analis sastra dengan pendekatan Psikologis, yang bertumpu pada teori Psikologi Sosial pada umumnya dan teori Interaksi Simbolis George H. Mead pada khususnya. Tujuan teoritis ini berhubungan dengan usaha penerapan teori-teori psikologi sosial untuk melihat pencapaian hasil maksimal dari pendekatan tersebut ketika digunakan untuk menganalisis roman <i>Le Périple de Baldassare</i>. </p>
<p align="justify">Di sisi lain, penelitian ini memiliki tujuan praktis yakni mendorong pembaca sastra untuk lebih banyak memberikan apresiasi terhadap roman <i>Le Périple de Baldassare </i>sehingga dapat meningkatkan apresiasi terhadap karya sastra pada umumnya dan Karya Sastra Prancis pada khususnya. Di samping itu penelitian ini juga ingin menambah kuantitas penelitian sastra yang menggunakan kajian Psikologi Sastra yang hingga kini masih terbatas jumlahnya. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andreasnova.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andreasnova.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andreasnova.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andreasnova.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andreasnova.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andreasnova.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andreasnova.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andreasnova.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andreasnova.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andreasnova.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andreasnova.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andreasnova.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andreasnova.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andreasnova.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=31&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andreasnova.wordpress.com/2009/07/27/analisis-tindakan-tokoh-baldassare-embriarco-dalam-roman-le-periple-de-baldassare-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab9a935406389d68680053e970015029?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nova</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gone Too Soon &#8211; Mengenang Bung Jacko</title>
		<link>http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/27/gone-too-soon-mengenang-bung-jacko/</link>
		<comments>http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/27/gone-too-soon-mengenang-bung-jacko/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 08:26:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nova</dc:creator>
				<category><![CDATA[A Tale of a Duck]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/27/gone-too-soon-mengenang-bung-jacko/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Like A Comet Blazing &#8216;Cross The Evening Sky Gone Too Soon Like A Rainbow Fading In The Twinkling Of An Eye Gone Too Soon Shiny And Sparkly And Splendidly Bright Here One Day Gone One Night Like The Loss Of Sunlight On A Cloudy Afternoon Gone Too Soon Like A Castle Built Upon A [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=30&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><i>Like A Comet     <br />Blazing &#8216;Cross The Evening Sky       <br />Gone Too Soon</i><i>     <br />Like A Rainbow      <br />Fading In The Twinkling Of An Eye      <br />Gone Too Soon      <br />Shiny And Sparkly      <br />And Splendidly Bright      <br />Here One Day      <br />Gone One Night      <br />Like The Loss Of Sunlight      <br />On A Cloudy Afternoon      <br />Gone Too Soon      <br />Like A Castle      <br />Built Upon A Sandy Beach      <br />Gone Too Soon      <br />Like A Perfect Flower      <br />That Is Just Beyond Your Reach      <br />Gone Too Soon      <br />Born To Amuse, To Inspire, To Delight      <br />Here One Day      <br />Gone One Night      <br />Like A Sunset      <br />Dying With The Rising Of The Moon      <br />Gone Too Soon</i>    <br /><b>Michael Jackson&#8217;s Gone Too Soon, Dangerous, 1991</b></p>
<p align="justify"><img style="display:inline;margin:0 15px 0 0;" alt="" align="left" src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs113.snc1/4831_1180072459830_1168723888_525389_5474619_a.jpg" width="131" height="200" /></p>
<p align="justify">Tanggal 25 kemarin, seorang selebritis kembali berpulang. Ya, Michael Jackson &quot;<i>The King of Pop</i>&quot; pada masanya. Cukup kaget juga mendengar kabar itu. Soalnya waktu aku kecil (kalo gag salah jaman TK/SD lah) aku suka sama lagu-lagunya, walaupun masih belum ngerti artinya dan sempet punya satu album yang <i>&#8216;Dangerous</i>&#8216;.    <br />Terlepas dari segala berita negatif yang mengelilinginya, sebenarnya Jacko perduli banget sama masalah-masalah sosial. Hal ini terlihat jelas dari lirik-lirik lagunya. seperti :    </p>
<p> <b></b>
<p align="justify"><b></b></p>
<p align="justify"><b>Heal the World</b>,     <br />(<i>Heal the World make it a better place     <br />for you and for me and the entire human race      <br />there are people dying if you care enough for the living      <br />make a better place for you and for me</i>)    <br /><b>Black or White</b>,    <br />(<i>It Don&#8217;t Matter If You&#8217;re     <br />Black Or White</i>)     <br /><b>Why you wanna trip on me</b>,     <br />(<i>They say I&#8217;m different     <br />They don&#8217;t understand      <br />But there&#8217;s a bigger problem      <br />That&#8217;s much more in demand      <br />You got world hunger      <br />Not enough to eat      <br />So there&#8217;s really no time      <br />To be trippin&#8217; on me      <br />You got school teachers      <br />Who don&#8217;t wanna teach      <br />You got grown people      <br />Who can&#8217;t write or read      <br />You got strange diseases      <br />Ah but there&#8217;s no cure      <br />You got many doctors      <br />That aren&#8217;t so sure      <br />So tell me      <br />Why you wanna trip on me      <br />Why you wanna trip on me      <br />Stop trippin&#8217;      <br />We&#8217;ve got more problems      <br />Than we&#8217;ll ever need      <br />You got gang violence      <br />And bloodshed on the street      <br />You got homeless people      <br />With no food to eat      <br />With no clothes on their back      <br />And no shoes for their feet      <br />We&#8217;ve got drug addiction      <br />In the minds of the weak      <br />We&#8217;ve got so much corruption      <br />Police brutality      <br />We&#8217;ve got streetwalkers      <br />Walkin&#8217; into darkness      <br />Tell me      <br />Why are you doing      <br />to try to stop this</i>)    <br />yang menunjukkan keperduliannya pada isu-isu lingkungan, Rasisme, kemiskinan, malnutrisi, Tuna wisma, HIV/AIDS, jauh sebelum semua orang di dunia menggembar-gemborkan isu lingkungan hidup, diskriminasi dan teman-temannya.    <br />Dunia juga tak mengingkari pengaruhnya yang begitu besar pada perkembangan dunia musik, seperti pengakuan beberapa musisi seperti Kanye West, Usher, Justin Timberlake, dan Chris Brown yang ter-influence oleh aksi King of Pop ini dalam beberapa aksi panggungnya.     <br />Tapi semua itu (semua lagu yang saya sebutkan tadi ada dalam album ke-8 Jacko, &#8216;Dangerous&#8217; yang dirilis tahun 1991) seolah menguap begitu saja semenjak adanya isu perceraiannya dengan Princess of Rock n Roll, Lisa Marie Presley dan isu child sexual abuse yang dilakukannya, atau bahkan berita miring tentang kulitnya yang memucat semenjak medio 1980-an.    <br />Mengutip kalimat seorang kawan saya yang juga seorang penulis, &quot;Hidup tak melulu tumbuh dari kebaikan, tapi juga dari najis dan dosa&quot;. Mungkin teman-teman semua memiliki intrepretasi yang berbeda setelah membaca kalimat tersebut. Tapi memang begitulah hidup, yang hitam bisa disebut hitam karena adanya putih, dan begitu pula sebaliknya. Namun, kadang yang diingat orang hanya noda hitam di atas kertas putih.    </p>
<p> <i></i><br />
<blockquote>
<p align="justify"><i>I&#8217;ve been in the entertainment industry since I was six-years-old&#8230; As Charles Dickens says, &quot;It&#8217;s been the best of times, the worst of times.&quot; But I would not change my career&#8230; While some have made deliberate attempts to hurt me, I take it in stride because I have a loving family, a strong faith and wonderful friends and fans who have, and continue, to support me</i>      <br />—Michael Jackson      </p>
</blockquote>
<p align="justify"><strong>Keep Rockin&#8217; there Jacko!!</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andreasnova.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andreasnova.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andreasnova.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andreasnova.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andreasnova.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andreasnova.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andreasnova.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andreasnova.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andreasnova.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andreasnova.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andreasnova.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andreasnova.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andreasnova.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andreasnova.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=30&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/27/gone-too-soon-mengenang-bung-jacko/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab9a935406389d68680053e970015029?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nova</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs113.snc1/4831_1180072459830_1168723888_525389_5474619_a.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SOSIO-CULTURAL dan SASTRA BANDINGAN</title>
		<link>http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/23/sosio-cultural-dan-sastra-bandingan/</link>
		<comments>http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/23/sosio-cultural-dan-sastra-bandingan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2009 03:01:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nova</dc:creator>
				<category><![CDATA[When a duck become &#039;akademisi&#039;]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/23/sosio-cultural-dan-sastra-bandingan/</guid>
		<description><![CDATA[Abstrak: Il n’y a pas seulement intertexte comparaison qui on peut compare mais aussi socioculturel comparaison. Les littératures n’est pas seulement influence par l’autre littérature mais aussi l’influence socioculturel dans sa région. Spécialement en les littératures qui ont un grand thème universel comme L’amour, L’héro, Divinité, tragédie etc. on peut trouver ce littérature avec ce [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=29&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><b><a href="http://andreasnova.files.wordpress.com/2009/06/oedipus.jpg"><img title="oedipus" style="border-right:0;border-top:0;display:inline;border-left:0;border-bottom:0;margin:0 15px 0 0;" height="260" alt="oedipus" src="http://andreasnova.files.wordpress.com/2009/06/oedipus_thumb.jpg?w=153&#038;h=260" width="153" align="left" border="0" /></a>Abstrak:</b></p>
<p align="justify"><i>Il n’y a pas seulement intertexte comparaison qui on peut compare mais aussi socioculturel comparaison. Les littératures n’est pas seulement influence par l’autre littérature mais aussi l’influence socioculturel dans sa région. Spécialement en les littératures qui ont un grand thème universel comme L’amour, L’héro, Divinité, tragédie etc. on peut trouver ce littérature avec ce grand thème autour le monde. Bien sur il n’y a pas deux littératures qui exactement même. Toujours il y a influence de socioculturel de sa région qui influencée la littérature</i>. </p>
<p align="justify">Sastra bandingan adalah sebuah studi teks <i>across cultural</i>. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek waktu dan tempat. Dari aspek waktu, sastra bandingan dapat membandingankan dua atau lebih periode yang berbeda. Sedangkan konteks tempat, akan mengikat satra bandingan menurut wilayah geografis sastra. Konsep ini merepresentasikan bahwa sastra bandingan memang cukup luas, bahkan pada perke mbangan selanjutnya konteks sastra bandingan tertuju pada bandingan sastra dengan bidang lain. Bandingan ini, guna merunut keterkaitan antar aspek kehidupan. Sastra bandingan juga dapat meliputi aspek: pengaruh, sumber ilham (acuan), proses pengambilan ilham atau pengaruh dan tema dasar.</p>
<p align="justify">Dalam kamus Websters, dikemukakan bahwa sastra bandingan mempelajari hubungan timbal balik karya sastra dari dua atau lebih kebudayaan nasional yang biasanya berlainan bahasa, dan terutama pengaruh karya sastra yang satu terhadap karya sastra lain. Sementara itu, menurut Rene Wellek dan Austin Warren ada tiga pengertian mengenai sastra bandingan. Pertama, penelitian sastra lisan, terutama tema cerita rakyat dan penyebarannya. Kedua, penyelidikan mengenai hubungan antara</p>
<p align="justify">dua atau lebih karya sastra, yang menjadi bahan dan objek penyelidikannya, di antaranya, soal reputasi dan penetrasi, pengaruh dan kemasyhuran karya besar. Ketiga, penelitian sastra dalam</p>
<p align="justify">keseluruhan sastra dunia, sastra umum dan sastra universal. Sejalan dengan pendapat Wellek dan Warren, Holman mengungkapkan, bahwa sastra bandingan adalah studi sastra yang memiliki perbedaan bahasa dan asal negara dengan suatu tujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan dan pengaruhnya antara karya yang satu terhadap karya yang lain, serta ciri-ciri yang dimilikinya.</p>
<p align="justify">Hal senada juga dikemukakan Remak yang mengungkapkannya sebagai berikut: “Sastra bandingan adalah studi sastra yang melewati batas-batas suatu negara serta hubungan antara sastra dan bidang pengetahuan dan kepercayaan lain.” Ringkasnya, sastra bandingan adalah perbandingan karya sastra yang satu dengan satu atau beberapa karya sastra lain, serta perbandingan karya sastra dengan ekspresi manusia dalam bidang lain. Lebih lanjut Remak menekankan, bahwa perbandingan</p>
<p align="justify">antara karya sastra dan bidang di luar sastra hanya dapat diterima sebagai sastra bandingan, jika perbandingan keduanya dilakukan secara sistematis dan bidang di luar sastra itu dapat dipisahkan dan mempunyai pertalian logis.</p>
<p align="justify">Namun dalam kenyataannya seringkali ditemukan bahwa hal-hal yang mempengaruhi karya sastra yang memiliki kemiripan bukan hanya sekedar hubungan pengaruh karya sastra satu dan yang lain, namun juga adanya pengaruh secara sosio-historis maupun pengaruh kultural. Terutama pada karya sastra yang bertema universal, seperti cinta, diferensiasi sosial, ketuhanan, kepahlawanan, dan sebagainya. </p>
<p align="justify">Perbandingan dalam mitologi nordik (skandinavia) dan mitologi hindu (india) dapat menjadi contoh komparasi dalam tema ketuhanan. Kedua mitologi ini mengenal adanya pohon kehidupan, pohon <i>bagha</i> (dalam mitologi hindu) dan pohon <i>yggdrasill</i> (dalam mitologi nordik). Keduanya juga mengenal pimpinan para dewa, Dyaus (dalam mitologi hindu) dan Odin (dalam mitologi nordik). Selain itu kedua mitologi ini juga mengenal adanya konsep tiga dunia (<i>tri-bhuwana</i> dalam mitologi hindu) yang kemudian diadaptasi oleh mitologi – mitologi yang lebih muda dari kedua mitologi (seperti mitologi mesir kuno atau mitologi yunani) tersebut. Tidak ada catatan historis yang menyebutkan kedua mitologi tersebut saling mempengaruhi. Selain dikarenakan kedua daerah tempat berkembangnya mitologi tersebut berjauhan. Kedua mitologi tersebut juga hanya menyebutkan bahwa dunia manusia hanya terdiri dari satu benua.</p>
<p align="justify">Sedangkan perbedaan paling banyak dapat ditemukan dalam karya sastra bertemakan cinta, khususnya pada tema ‘kasih tak sampai’. Contoh paling mudah dapat kita temukan pada karya Romeo dan Juliet (Inggris), Sampek Engtai (China), Lancelot dan Guinevere (anglo saxon), Popocatépetl dan Iztaccíhuatl (Mexico), Layla Majnun (Arab) dan dalam kisah klasik lainnya seperti Paris dan Helen dalam Illiad (yunani), Oedipus dan Jocasta (Yunani). Kisah serupa tak hanya dapat dijumpai dalam karya sstra namun juga berkembang ke dalam serial televisi, film bahkan RPG (role playing games) seperti Buffy dan Angel (<i>Buffy the vampire slayer</i>), Clark Kent dan Lana Lang (<i>Smallville</i>) dalam film pun dapat kita temukan kisah Jack Dawson dan Rose DeWitt Bukater from <i>Titanic</i>, Landon Carter dan Jamie Sullivan dalam &quot;A Walk to Remember&quot;, Anakin Skywalker dan Padmé Amidala dalam <i>Star Wars</i>, Christian dan Satine dalam <i>Moulin Rouge!</i> Bahkan Ennis Del Mar dan Jack Twist dalam <i>Brokeback Mountain</i> juga dapat kita masukkan. Dari dalam negeri ada kisah Saijah dan Adinda dalam <i>Max Havellar</i> ataupun dalam legenda terjadinya Tangkuban Perahu. </p>
<p align="justify">Persamaan yang mendasari kisah dalam karya-karya sastra tersebut bukan berarti cerita dan plot yang dipakai sama. Dalam Oedipus dan Sangkuriang, kedua tokoh ini ingin menikahi ibunya, karena keduanya tidak tahu bahwa wanita cantik yang ia temui adalah ibunya. Keduanya juga memiliki persamaan yaitu cacat secara fisik, Oedipus pincang dan Sangkuriang memiliki bekas luka di kepalanya. Namun perbedaan mencolok dari kedua karya tersebut adalah Oedipus sempat menikahi Jocasta, ibunya sedangkan Sangkuriang tidak. mengapa Oedipus sempat menjadi suami perempuan yang sebenarnya ibunya sendiri, sedangkan Sangkuriang, menikah pun dengan Dayang Sumbi belum sempat? Tentu saja persoalannya akan menjadi jelas jika kita menghubungkan kultur Sunda pada diri Sangkuriang dengan kultur Barat pada diri Oedipus. Sangat boleh jadi, Oedipus tidak mengenal.Konsep “anak durhaka” dan “surga berada di bawah telapak kaki ibu.”</p>
<p align="justify">Masalah yang sama dapat kita kemukakan pada kasus Pariyem dan Nyanyian Lawino. Mengapa Lawino tampil sebagai sosok perempuan kasar, pemberang dan berangasan dibandingkan Pariyem yang sumarah, minder, manut. Mengapa pula dalam cerita-cerita fabel di Eropa, tokoh Serigala selalu tampil sebagai tokoh yang cerdik dan sering muncul sebagai “mesias”, dewa penolong, sedangkan dalam cerita fabel Nusantara, tokoh seperti itu diwakili oleh tokoh kancil, sebaliknya tokoh Serigala tampil sebagai tokoh jahat, rakus, dan serakah? Tentu saja ini berkaitan dengan latar belakang sosiokultural yang berlaku di masyarakat masing-masing.</p>
<p align="justify">Banyak contoh serupa masih dapat kita perpanjang. Namun, yang jelas bahwa penjelasan sosiokultural dalam studi sastra bandingan agaknya, perlu mendapat tekanan, betapapun itu memerlukan disiplin ilmu lain. Dengan cara ini, niscaya studi sastra bandingan akan memberi sumbangan berarti bagi usaha memahami kebudayaan suatu bangsa. Dengan cara itu pula, terbuktilah bahwa bahasa (: sastra) merupakan juga cerminan identitas bangsa.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andreasnova.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andreasnova.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andreasnova.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andreasnova.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andreasnova.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andreasnova.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andreasnova.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andreasnova.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andreasnova.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andreasnova.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andreasnova.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andreasnova.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andreasnova.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andreasnova.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=29&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/23/sosio-cultural-dan-sastra-bandingan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab9a935406389d68680053e970015029?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nova</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://andreasnova.files.wordpress.com/2009/06/oedipus_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">oedipus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Film = Perspective + Mise en Scene</title>
		<link>http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/19/film-perspective-mise-en-scene/</link>
		<comments>http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/19/film-perspective-mise-en-scene/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 06:59:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nova</dc:creator>
				<category><![CDATA[When a duck become &#039;akademisi&#039;]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/19/film-perspective-mise-en-scene/</guid>
		<description><![CDATA[Extrait Mise en scène et le point de vue du réalisateur a grand influence d&#8217;un film. Mise en scène peut attirer les spectateur pour voir le monde dans le film en même perspective du realisateur. Tous les éléments de la mise en scène doit être uniter et expliquer à les spectateur de vue de la [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=26&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong><a href="http://andreasnova.files.wordpress.com/2009/06/seven_xl_01filmb.jpg"><img title="seven_xl_01--film-B" style="border-right:0;border-top:0;display:inline;border-left:0;border-bottom:0;margin:0 10px 0 0;" height="180" alt="seven_xl_01--film-B" src="http://andreasnova.files.wordpress.com/2009/06/seven_xl_01filmb_thumb.jpg?w=240&#038;h=180" width="240" align="left" border="0" /></a></strong></p>
<p align="justify"><strong>Extrait</strong></p>
<p align="justify"><em>Mise en scène et le point de vue du réalisateur a grand influence d&#8217;un film. Mise en scène peut attirer les spectateur pour voir le monde dans le film en même perspective du realisateur. Tous les éléments de la mise en scène doit être uniter et expliquer à les spectateur de vue de la realisateur. </em></p>
<p align="justify"><em>Un bon film est&#160; un film qui peut impliquer émotionnellement avec les spectateur à leur égard. Alors que les spectateurs toujours hâte à ce qui va être vu et ce qui se passera ensuite. Les spectateurs sont toujours esperent&#160; choses. un bon film peut faire un catharsis a ses spectateurs</em></p>
<p align="justify"><b>A. </b><b>Pengertian <i>Mise en Scene</i> dan Perspektif </b></p>
<p align="justify"><i>Mise en scene</i> adalah istilah bahasa Prancis yang berarti meletakkan dalam <i>scene</i>. <i>Mise en scene</i> merupakan segala yang kita lihat di dalam sebuah film, semua yang tampak di layar. Mulai dari <i>setting</i> tempat,&#160; kostum, make up, pencahayaan, dan ekspresi figur dan gerakan. <i>Mise en Scene</i> meliputi fungsi sebuah <i>scene</i> dalam film. Apakah itu untuk menjelaskan sesuatu, ataukah untuk kesan dramatik, semua tergantung dari kebutuhan film itu sendiri. Penyusunan elemen &#8211; elemen dalam <i>Mise en Scene</i> juga sangat penting karena hal ini menimbulkan berbagai macam hal lain seperti harapan tokoh dalam <i>scene </i>tersebut, permasalahannya, dan lain &#8211; lain. <i>Mise en Scene</i> juga yang nantinya akan membuat penonton penasaran dan akan mengembangkan keingintahuan penonton tentang sebuah <i>scene</i>, bahkan sebuah film.</p>
<p> <span id="more-26"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Sementara secara harfiah dalam istilah film, perspektif dikaitkan dengan teknis dalam sebuah film. Perspektif adalah penggunaan lensa <i>wide, tele</i>, atau <i>zoom</i> yang mempengaruhi angle dari setiap <em>shot</em>. Seperti yang sudah dipelajari bahwa aturan sistematis tentang perspektif adalah sesuatu yang sangat sederhana. Objek yang letaknya dekat akan terlihat besar sementara objek yang jauh letaknya akan terlihat kecil. Meskipun ukuran sebenarnya sangat besar, seperti gedung pencakar langit, namun karena adanya perspektif, gedung pun terlihat kecil dari jauh. Semisal kita sedang berada di pantai dan melihat ke arah lautan di mana matahari sedang terbenam. Kita akan melihat seakan laut dan langit menyatu di ujung horizon. Matahari menempel di atas laut yang semakin malam akan semakin tenggelam dalam laut. Anggapan bahwa laut dan langit menempel di horizon disebabkan adanya perspektif.</p>
<p align="justify">Sistem optikal dari mata kita adalah mengenali bias cahaya yang direfleksikan sebuah pemandangan atau <i>scene</i>. Refleksi ini akan bermuatan berbagai informasi seperti hubungan antara skala, kedalaman, dan ruang antara elemen &#8211; elemen yang ada di dalam <i>scene</i>. Hubungan ini disebut hubungan perspektif.</p>
<p align="justify">Perbedaan kamera dan mata hanyalah terletak lensa fotografik yang ada pada kamera. Lensa kamera memungkinkan terjadinya <i>zoom in</i> atau <i>zoom out</i> yang tidak mungkin dilakukan oleh retina mata. Setiap tipe lensa kamera memiliki hubungan perspektif yang berbeda &#8211; beda tergantung dari kebutuhannya.</p>
<p align="justify"><b>B. </b><b>Hubungan Sutradara dengan <i>Mise en Scene</i> dan Perspektif</b></p>
<p align="justify">Seorang sutradara sebagai seorang <i>storyteller</i> adalah orang yang menciptakan <i>Mise en Scene</i> dalam filmnya. Sutradara harus sangat memahami apa makna dari <i>Mise en Scene</i> dan dapat menciptakan <i>Mise en Scene</i> sesuai dengan <i>mood</i> atau suasana yang diinginkan. Tetapi dalam hal ini, sutradara tidak bisa seenaknya memperlihatkan apa yang diinginkan penonton. Contohnya ketika adegan berkelahi, penonton ingin jagoannya atau tokoh protagonis yang menang. Sebagai seorang sutradara, yang merupakan pusat ide sebuah film, harus dapat mencari cara lain yang membelokkan ekspektasi penonton akan adegan yang akan terjadi selanjutnya. Hal ini akan membuat sebuah film menjadi lebih menarik karena tidak mudah ditebak.</p>
<p align="justify">Sutradara yang merepresentasikan dirinya dalam sebuah film harus memahami bahwa film dibuat untuk memperlihatkan apa yang harus penonton lihat. Bukan apa yang diinginkan penonton. Apabila sutradara hanya memperlihatkan apa yang ingin penonton lihat, hal ini belum tentu mengandung kebenaran.</p>
<p align="justify">Seorang sutradara yang handal harus dapat memperlihatkan kebenaran pada penonton, bukan kebenaran yang diinginkan penonton. Hal ini sangat berguna untuk mendidik masyarakat atau penonton, karena film merupakan alat yang ampuh untuk pendidikan. Film dapat mempengaruhi orang dan kedahsyatan kekuatan sebuah film sangat besar. Banyak sekali film yang dibuat untuk propaganda, karena film memang memiliki kemampuan untuk membius penontonnya.</p>
<p align="justify">Sebuah film adalah perspektif dari siapa yang membuatnya. Bahkan film yang menceritakan tentang seseorang juga merupakan sudut pandang dari penulis, sutradara, atau siapa pun pencetus idenya. Film tidak bisa lepas dari sebuah <i>point of view</i> atau perspektif. Contoh yang paling sederhana adalah penggunaan narasi. Terdapat dua macam narasi yang sering digunakan dalam film, yaitu narasi maha tahu atau <i>omni scient</i> dan narasi tokoh atau <i>first person point of view</i>. Omni scient adalah narasi yang maha tahu, seperti suara Tuhan yang tahu setiap kejadian dari berbagai tokoh dalam film. Sementara <i>first person point of view</i> adalah perspektif dari tokoh utama.</p>
<p align="justify"><b>C. </b><b>Penciptaan <i>Mise en Scene</i> Melalui Perspektif</b></p>
<p align="justify">Sudut pandang atau perspektif merupakan unsur yang penting dalam <i>Mise en Scene</i>. Malah bisa dibilang perspektiflah yang menjadi dasar penciptaan <i>Mise en Scene</i>. Kita dapat menimbang dalam film kita sudut pandang siapakah yang akan kita gunakan. Sudut pandang siapa yang memiliki dominasi kuat dalam cerita film kita. Seorang sutradara juga harus dapat menjawab sendiri mengapa sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang yang subjektif ketimbang objektif. Karena sutradara adalah jawaban dari seribu pertanyaan. Sutradara yang memiliki hak untuk membubuhkan tanda tangannya di sudut kiri layar, karena ia adalah orang yang bekerja paling keras dalam pembuatan sebuah film. Perspektif sutradara adalah sumber penciptaan.</p>
<p align="justify">Konsep ide mendahului teknis bisa sangat mempengaruhi penciptaan <i>Mise en Scene</i> berdasarkan perspektif tertentu, kemudian menghubungkannya dengan <i>Mise en Scene</i>. </p>
<p align="justify">Salah satu unsur <i>Mise en Scene</i> yang utama adalah <i>setting</i>. <i>Setting</i> merupakan tempat terjadinya cerita. <i>Setting </i>diciptakan berdasarkan berbagai pertimbangan seperti keterpaduan dan kesinambungan grafis, misalnya kesinambungan dominasi warna merah pada <i>setting</i>. Konsistensi dalam pemakaian warna tersebut berhubungan dengan dimensi grafis dan <em>continuity</em> dari cerita tersebut. <i>Setting</i> sangat berperan penting dalam film. <i>Setting</i> dapat menjadi cerita meskipun tanpa aktor.</p>
<p align="justify">Kostum dan <em>make-up</em> bisa menjadi cara untuk memenuhi dimensi grafis yang kreatif. Sekali lagi konsistensi pemakaian model, tren ataupun warna dari kostum dan <i>make-up</i> sangat bergantung pada sudut pandang sutradara dalam menggarap ceritanya. Selain itu, kostum bisa menjadi simbol akan satu jaman, negara, maupun ideologi tertentu.</p>
<p align="justify">Kostum selalu dekat dengan <i>setting</i>. <i>Setting</i> menyediakan latar belakang yang natural dan sesuai dengan cerita sementara kostum membangun identitas dari karakter tokoh. Kostum bisa menonjolkan sifat dari tokoh. Penampilan tokoh yang pendiam dan pesolek tentu akan sangat berbeda, tergantung dari konteks dramatik yang diinginkan sutradara.</p>
<p align="justify">Pencahayaan pada jaman sekarang menjadi salah satu kunci untuk membangun kesan dan <em>mood</em> dari cerita. Cahaya dapat memanipulasi ruang dan bisa menjadi penguat satu hal. Dalam film detektif, seorang penjahat yang memiliki banyak rencana jahat tidak akan ditampilkan dengan cahaya yang terang benderang. Permainan cahaya bisa menjadi sesuatu yang kreatif, karena secara tidak sadar, cahaya ternyata memberikan impresi yang berbeda bagi setiap benda yang terkena pantulannya. </p>
<p align="justify">Saat ini cahaya berperan penting. Pada sinema <em>Hollywood</em>, cahaya sudah mempunyai sebuah patokan sendiri yang selalu diterapkan, yaitu <i>three point lighting</i>. Di mana sumber cahaya berada di tiga titik (<em>backlight</em>, <em>fill light,</em> dan <em>key light</em>) yang berbeda yang memiliki fungsi berbeda. </p>
<p align="justify">Ekspresi <i>figure</i> berkaitan dengan <i>acting</i>, penampilan dan bahasa tubuh tokoh yang ada di dalam film. Tokoh di dalam film tidak selalu harus hidup. Dalam beberapa film <em>horror</em>, rumah bisa menjadi tokoh utama. Pengarahan <i>acting </i>dan ekspresi <i>figure</i> semuanya dilakukan oleh sutradara sesuai dengan keinginan seberapa besarnya kadar realis yang ingin ditampilkan.</p>
<p align="justify"><b>D. </b><b>Film adalah sudut pandang</b></p>
<p align="justify">Seperti yang kita ketahui, film dibuat oleh orang &#8211; orang yang berbeda. Pada dasarnya film adalah cara seorang <i>filmmaker</i> dalam memandang dunianya. Film adalah dunia yang diciptakan <i>filmmaker</i> sesuai dengan apa yang ia rasakan, ia alami, ia lihat dan ia inginkan. Singkatnya, film tanpa perspektif bukanlah film. Dengan adanya perspektif dalam memandang dunia, <i>filmmaker</i> terpacu untuk menciptakan satu dunia baru sesuai dengan imajinasinya. Berdasarkan perspektifnya tentang dunia, maka <i>filmmaker</i> akan menciptakan <i>Mise en Scene</i> yang akan terlihat di layar.</p>
<p align="justify">Perbedaan sudut pandang bisa mengubah sebuah ide yang sangat sederhana, menjadi ratusan cerita yang bisa sangat berlawanan. Sehingga seorang sutradara tidak perlu khawatir bila ide ceritanya di ambil oleh orang lain, karena hasil yang akan dibuat pasti akan berbeda. Baik dari naratifnya hingga ke <i>Mise en Scene</i>. Segala hal yang ada di dunia ini hanyalah masalah perbedaan sudut pandang. Berbagai konflik yang terjadi, hukum, sosial, agama semuanya disebabkan karena perbedaan persepsi yang diselipi ego personal.</p>
<p align="justify">Di sinilah kepekaan seorang <i>filmmaker</i> diuji. Dengan begitu maraknya gejolak dalam masyarakat, <i>filmmaker</i> diharapkan peka terhadap segala hal yang terjadi dalam masyarakat. Karena dari berbagai referensi tersebut, dapat menambah kaya ide seorang sutradara dan membuatnya lebih kreatif dalam menciptakan <i>Mise en Scene</i>.</p>
<p align="justify">Perbedaan sudut pandang tidak hanya berlaku bagi <i>filmmaker</i>, tetapi juga bagi penonton. Jutaan kepala dengan perspektifnya sendiri-sendiri yang disebabkan oleh perbedaan usia, jenis kelamin, pengalaman hidup, kondisi ekonomi, dan lain &#8211; lain bisa menjadi penyebab dari perbedaan pandangan. Hidup dan pengalaman adalah guru terbaik yang membentuk karakter dan pribadi seseorang.</p>
<p align="justify">Penonton dapat menilai sebuah film baik atau buruk tergantung dari pendapatnya. Seperti kata &#8211; kata klasik, cantik tu relatif. Karena tidak ada seorang pun yang dapat mendefinisikan kata cantik yang disetujui semua orang. Tidak ada yang dapat membuat konvensi tentang sesuatu yang cantik. Karena perbedaan pandangan yang menyebabkan semua itu.</p>
<p align="justify">Sebuah film yang dianggap pembuatnya sebagai karya seni bernilai seni tinggi bisa dianggap sampah oleh orang lain. Karena perspektif bisa juga disebut selera. Selera seseorang akan segala hal yang ada di dunia ini. </p>
<p align="justify">Sutradara harus dapat terus dengan produktif menghasilkan karya &#8211; karya yang menurutnya baik. Membuat segala macam karya dengan sepenuh hati bukan hanya menimbulkan kepuasan diri, tetapi juga dapat mengubah pandangan orang tentang sesuatu.</p>
<p align="justify">Sutradara adalah individu yang menciptakan <em>Mise en Scene </em>dari perspektif-nya. Sutradara adalah &quot;Tuhan&quot; dari dunia yang ia ciptakan. <i>Mise en Scene</i> dan perspektif tidak dapat dipisahkan karena film adalah sebuah gabungan <i>Mise en Scene</i><i> </i>yang dihasilkan dari sebuah perspektif.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andreasnova.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andreasnova.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andreasnova.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andreasnova.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andreasnova.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andreasnova.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andreasnova.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andreasnova.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andreasnova.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andreasnova.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andreasnova.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andreasnova.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andreasnova.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andreasnova.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=26&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/19/film-perspective-mise-en-scene/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab9a935406389d68680053e970015029?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nova</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://andreasnova.files.wordpress.com/2009/06/seven_xl_01filmb_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">seven_xl_01--film-B</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Love is Inescapable&#8230; really??</title>
		<link>http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/02/love-is-inescapable-really/</link>
		<comments>http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/02/love-is-inescapable-really/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 01:09:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nova</dc:creator>
				<category><![CDATA[A Tale of a Duck]]></category>
		<category><![CDATA[Junk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/02/love-is-inescapable-really/</guid>
		<description><![CDATA[Terjadi perdebatan seru antara dua orang teman saya saat judul tulisan ini saya jadikan status di akun facebook saya. Yang satu mendukung, yang satu menyangkal. I appreciate you two, Pals!! Love is Inescapable…. Love is Inescapable, kurang lebih artinya Cinta itu menjerat (tidak bisa melarikan diri. Inescapable(adj:impossible to avoid or evade)). Menurut teman saya, cinta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=23&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://andreasnova.files.wordpress.com/2009/06/harry_houdini_by_gpr117.jpg"><img title="Harry_Houdini_by_gpr117" style="display:inline;margin-left:0;margin-right:0;border-width:0;" height="234" alt="Harry_Houdini_by_gpr117" src="http://andreasnova.files.wordpress.com/2009/06/harry_houdini_by_gpr117_thumb.jpg?w=196&#038;h=234" width="196" align="left" border="0" /></a> </p>
<p align="justify">Terjadi perdebatan seru antara dua orang teman saya saat judul tulisan ini saya jadikan status di akun facebook saya. Yang satu mendukung, yang satu menyangkal. <em>I appreciate you two, Pals!!</em> </p>
<p align="justify"><em>Love is Inescapable….</em></p>
<p align="justify">Love is Inescapable, kurang lebih artinya Cinta itu menjerat (tidak bisa melarikan diri. Inescapable(adj:impossible to avoid or evade)). Menurut teman saya, cinta itu seperti jerat. Yang dapat menjeratmu meskipun kamu tidak ingin terkena jeratnya, sedangkan pendapat lainnya menuliskan bahwa selalu ada tempat untuk menghindar dari cinta, untuk bersembunyi dari si Cinta.</p>
<div id='extendedEntryBreak'></div>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Saya tidak mau membenarkan salah satu dari pendapat itu. <em>For me, if it’s true that love is an inescapable trap, i wanna fall to the ‘right’ trap, so I dont have to escape from love. I can enjoy it. </em></p>
<p align="justify">Toh sampai sekarang bisa dihitung berapa kali saya terjatuh dalam jeratan cinta yang salah. Meskipun hati ini <em>nggrantes </em>hancur lebur berantakan. Tapi anehnya saya <em>nggak</em> kapok juga. Saya berusaha menikmati rasa <em>clekit-clekit</em> yang menusuk-nusuk hati saya kala saya jatuh pada <strike>lubang</strike> cinta yang salah. Toh, selalu ada pelajaran yang bisa saya petik dari setiap <em>relationship</em> itu. seperti quote favorite teman saya “ Just Enjoy!”</p>
<p align="justify">BeTeWe, kata <em>Love is Inescapabl</em>e itu saya temukan dari tagline film <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Death_Defying_Acts">“Death Defiying Acts”</a>. Film itu tentang seorang <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Escapologist">Escapologis</a> terkenal, siapa lagi kalo bukan si <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Houdini">Harry Houdini</a>. Saya belum lihat filmnya seperti apa, ceritanya <em>gimana</em>, saat tulisan ini dinaikkan, tapi ketika membaca <em>tagline</em> itu dan baca sekilas sinopsisnya. komentar saya hanya “Houdini saja tidak bisa melarikan diri dari Cinta” </p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">image source: <a title="http://gpr117.deviantart.com/art/Harry-Houdini-85710541" href="http://gpr117.deviantart.com/art/Harry-Houdini-85710541">http://gpr117.deviantart.com/art/Harry-Houdini-85710541</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andreasnova.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andreasnova.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andreasnova.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andreasnova.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andreasnova.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andreasnova.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andreasnova.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andreasnova.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andreasnova.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andreasnova.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andreasnova.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andreasnova.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andreasnova.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andreasnova.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andreasnova.wordpress.com&amp;blog=6703913&amp;post=23&amp;subd=andreasnova&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andreasnova.wordpress.com/2009/06/02/love-is-inescapable-really/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab9a935406389d68680053e970015029?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nova</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://andreasnova.files.wordpress.com/2009/06/harry_houdini_by_gpr117_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Harry_Houdini_by_gpr117</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
